Fakta dalam Kajian Sejarah

Hegel dalam karya seminalnya mempersalahkan sejarawan yang hanya menyajikan rangkaian pengetahuan mengenai masa lalu tanpa melihat atau menghiraukan suatu unsur kesatuan yang utuh. Namun hal ini kini dianggap hanyalah merupakan pretensi filsuf. Tugas utama sejarawan adalah menyelidiki masa silam untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh manusia pada masa silam.

tandatanya

Oleh karenanya sejarawan bertugas untuk menemukan dan memaparkan fakta sejarah. Namun apa itu fakta sejarah? Sir Geoffrey Elton berpendapat bahwa fakta sejarah adalah “something that happened in the past, which left traces in documents wich could be used by historian to reconstruct in the present.” Namun E.H. Carr memiliki pendapat berbeda, menurutnya “a past event did not become a historical fact until it was accepted as such by historian.”

Bagaimana mendamaikan dua pendapat ini? Ada baiknya kita mengkaji dahulu mengenai fakta dalam studi sejarah.

  1. Fakta dan Pernyataan

Banyak yang condong menyatakan bahwa fakta sebagai dasar kajian sejarah adalah mutlak dan selalu dapt diandalkan. Namun Carl L Becker mengingatkan bahwa ini seringkali bukanlah kenyataannya. Ada fakta yang tidak disanggah oleh banyak orang, misalnya perang dunia dimulai agustus 1914, maka ia adalah hard fact. Suatu fakta yang diangsikan dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut adalah suatu fakta lemah, soft fact.

Dalam diskursus mengenaio fakta sejarah terdapat 3 pertanyaan yang perlu dijawab yaitu:

  1. Apa yang dimaksud dengan fakta historis?;

  2. Dimana fakta hisoris terjadi?;

  3. Bilamana fakta historis terjadi?

  1. Fakta Sejarah

Ankersmit memberi contoh mengenai fakta kuat melalui sebuah peristiwa Juliu Caesar membawa pasukannya menyeberang Rubikon. Tidak ada yang menyangsikan terjadinya peristiwa ini. Namun fakta kuat ini tidak berdiri sendiri. Rubikon adalah sungai yang menjadi batas wilayah Roma dengan wilayah barbarian. Wilayah Roma adalah jurisdiksi senat, seorang Jendral yang ditugaskan keluar seperti Caesar tidak diperkenankan masuk begitu saja. Maka kita dapat melihat bahwa peristiwa ini tidaklah berdiri sendiri, ia memiliki kaitan dengan peristiwa lainnya.

Becker mengungkapkan bahwa fakta terdapat dalam benak sejarawan. Kita memandang masa silam dengan kondisi mental kita saat ini, dan dengan kondisi inilah timbul fakta dalam benak kita. Namun Ankersmit menyanggah bahwa kita harus membedakan antara fakta dengan pernyataan mengenai fakta. Fakta dapat terkandung dari catatan atau sumber, dan sejarawan memberikan pernyataan mengenai fakta tersebut.

  1. Fakta Unik dan Fakta General

Fakta unik adalah faktya yang terkandung dalam suatu kejadian yang hanya satu kali terjadi. Berbeda dengan ilmuwan pasti, sejarawan tidak (atau amat jarang) memberikan pernyataan umum atau fakta general. Bila seorang sejarawan memberikan suatu fakta umum, maka ia akan membatasinya dengan batasan tempat dan waktu.

  1. Pernyataan-pernyataan Mengenai Masa Silam

Yang dimaksud dengan pernyataan historis adalah pernyataan-pernyataan mengenai fakta historis. Suatu pernyatan histori memberikan gambaran keadaan historis yang diceritakan sejarawan. Pernyataan yang diberikan sejarawan ini dapat tunggal bila faktanya unik, dapat pula jamak bila faktanya general. Sejarawan tidaklah perlu merumuskan suatu pernyataan umum sebagaimana ilmuwan, oleh karenanya ia tidak perlu menyelidiki kesahihan pernyataan umum.

  1. Teori Kebenaran Sejarah

Dalam memahami fakta maka kita berusaha mendapatkan kebenaran. Dalam mencapai kebenaran ini terdapat 4 teori mengenai kebenaran (theory of truth).

a. Teori tindak bahasa, teori tindak bahasa dapat diterangkan sebagai teori mengenai pernyataan. Dalam teori tindak bahasa pernyataan “X” tidak ada bedanya dengan “X adalah benar.” Teori ini tidak banyak memberi perspektif dalam kajian sejarah.

b. Teori pragmatis, dalam teori ini suatu pernyataan dinyatakan benar bilamana pernyataan tersebut memberi manfaat. Misalnya saja penyataan “hujan terjadi setiap rabu sore” akan benar bila selama kita dapat menyaksikan hari rabu, kita menemui hujan. Dalam kajian sejarah ini bukanlah perspektif yang diperlukan.

c. Teori korespondensi, menurut teori ini suatu pernyataan dikatakan benar bila ia bersesuaian dengan kenyataan.

d. Teori koherensi, suatu pernyataan benar bila sesuai dengan pernyataan lainnya.

Kedua teori terakhir berjalan beriringan, menurut Ankersmit teori korespondensi menunjukkan apa yang kita maksudkan bila kita menyatakan pernyataan historis benar. Sementara itu teori koherensi menunjukkan bagaimana kita menetapkan bagaimana suatu pernyataan benar.

__________

Bacaan:

Ankersmit, F.R.. 1987. Refleksi tentang Sejarah: Pendapat-Pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah. Gramedia. Jakarta

Becker, Carl Lotus. “What are Historical Facts”. The Western Political Quarterly. Vol. 8, No. 3 (Sep., 1955), pp. 327-340. http://www.jstor.org/stable/442890

Becker, Carl Lotus. Pidato dalam pertemuan American Historian Association, Desember 29, 1931 “Everyman His Own Historian”. https://www.historians.org/about-aha-and-membership/aha-history-and-archives/presidential-addresses/carl-l-becker

,Mohammad Hadi Sundoro. 2009. Teka-Teki Sejarah: Berbagai Persoalan Tentang Filsafat Sejarah. Jember University Press. Jember.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s