Berpikir Kritis: Bucaille dan Firaun

Menyatukan keimanan dan keilmuan. Sungguh tujuan mulia dari banyak kalangan muslim (atau dari agama lainnya). Namun seringkali diantara kita justru banyak yang terjebak dalam cocok-cocokan antara fakta dan penjelasan ilmiah kekinian dengan ayat dan hadits. Salah satunya adalah perkara mumi Fir’aun yang dibawakan oleh dr Maurice Bucaille.

98firaun

Konon dari hasil penelitian Bucaille diketahui bahwa mumi tersebut adalahmeninggal dengan cara tenggelam ini diketahui dari sisa-sia garam yang terkandung dalam mumi tersebut. Enath bagaimana caranya koleganya yang muslim kemudian menunjukkan bahwa Al-Quran sudah menyatakan tentang hal ini.

Tunggu dulu, sebelum kita melanjutkan lagi. Ada beberapa hal yang cukup aneh dari cerita ini.

Benarkah Fir’aun itu adalah Fir’aun sebagaimana dalam Quran? Ramses II, Fir’aun yang diperika Maurice Bucaille adalah fir’aun yang terkenal sebagai Fir’aun pada masa Musa, namun karena alasan yang salah. Ia dijadikan Fir’aun dalam kisah Musa berdasarkan novel dan film. Para arkeolog lebih tertarik tentang bagaimana para Fir’aun tersebut berkuasa dan masih berdebat tentang siapa Fir’aun dalam kisah Musa.

Kembali ke kisah Ramses, para dokter dan arkeolog lain yang memeriksa mumi Ramses memiliki kesimpulan lain. Ramses II meninggal pada usia tua, ia berjalan bungkuk di hari tuanya dan giginya yang berlubang memberi infeksi yang amat menyakitkan. Adakah ini Fir’aun dalam kisah Musa? Bukankah dalam kisah Musa sang Fir’aun cukup gagah untuk mengejar Musa dan bani Israel?

Terakhir mengenai sisa garam dalam mummi tersebut. Bukankah kita tahu bahwa garam berguna dalam pengawetan makanan? Tentu saja yang digunakan oleh Mesir kuno dalam mengawetkan mayat untuk membuat mumi adalah natron, campuran sodium karbonat, garam, dan senyawa lain. Tentu tidak heran bila mumi tersebut memiliki sisa garam. Tapi saya yang ndak tahu apa-apa ini ndak usah didengarkan soal ini. lebih baik lihat kenyataan bahwa para ahli ndak sependapat tentang siapa Firaun di zaman Musa.

Tentu saja cocoklogi Bucaille ini menimbulkan banyak euphoria di kalangan muslim. Tapi tahukah kawan, tafsir mengenai ayat yang dikutip Maurice Bucaille memiliki makna lain.

Jadi bila menggunakan penjelasan tafsir tersebut, sang Fir’aun setelah tenggelam segera muncul lagi (mengambang) ke permukaan agar bani Israel dapat melihat bahwa yang mengejar mereka sudah hilang.

Ah, sudahlah. We believe what we want to believe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s