Taman Gantung Mesopotamia

hangg_heemskerck

Mesopotamia (Yunani : Μεσοποταμία) yang berarti “negeri di antara dua sungai”, dikenal juga sebagai Lembah Sungai Eufrat & Tigris adalah peradaban tertua di dunia. Arnold Toynbee (2006: 51-86) membahas bagaimana peradaban Mesopotamia berkembang berbarengan dengan peradaban Lembah Sungai Nil, dan secara kebetulan lebih dahulu membentuk kehidupan urban dan masyarakat kompleks lebih dari sekitar 5-6 ribu tahun lalu.

Peradaban ini berumur cukup lama dan meninggalkan jejak dalam ingatan bangsa-bangsa dunia melalui rekaman dua kebudayaan : kebudayaan Yahudi dan kebudayaan Yunani. Melalui kebudayaan Yahudi kita mendengar kisah tentang Menara Babel sementara bangsa Yunani menyebutkan tentang Menara Gantung Babilon sebagai satu dari 7 keajaiban dunia yang mereka kenal pada zaman mereka.

Seperti apakah taman gantung ini? Let’s find out!A. Berbagai Peninggalan Mesopotamia

Mesopotamia sebagai peradaban yang cukup tua telah menyisakan banyak peninggalan. Kota-kota tua Sumer seperti Uruk dan Nippur kini menjadi lahan kerja para arkeolog. Tanpa adanya usaha penggalian, kota-kota ini sepintas hanyalah gundukan dan reruntuhan di padang tandus, tak terbayangkan adanya lahan-lahan subur yang diiairi dengan irigasi.

S03_06_01_017_image_2343.jpg
Mesopotamia dibangun dengan menggunakan bata, tidak seperti Mesir yang menggunakan batu yang awet. Angin, panas matahari, hujan, dan banjir yang terjadi selama ribuan tahun menjadikan apa yang dulunya bangunan megah menjadi gundukan tak berbentuk. Baru mulai abad 19 para arkeolog Eropa berusaha menyelidiki rahasia gundukan-gundukan ini untuk mendampingi kisah-kisah dari Alkita dan Yunani klasik mengenai Mesopotamia kuno (Kramer, 1975).
Sebagaimana kebudayaan lainnya, Mesopotamia menyisakan banyak peninggalan berupa gerabah. Gerabah yang berasal dari periode Ubaid sudah memiliki dekorasi yang cukup rumit, namun pada awal masa Sumer gerabah yang ada mengalami penyederhanaan. Baru pada millenium selanjutnya muncul hasil kriya dengan kerumitan lebih tinggi (Kramer, 1975: 176-177)
Pada masa kejayaan Sumer peninggalan benda-benda seni yang ditemukan umumnya di makam amatlah beragam. Stele, patung, dan tablet ditemukan di makam-makam ini. Salah satu artefak dari millenium ketiga Sebelum Masehi yang terkenal, Standard of Ur, menampilkan sekelebat keseharian rakyat Sumer dan peperangan mereka (Kramer, 1975).
Bangunan khas dari peradaban Mesopotamia adalah Ziqqurat/Ziggurat (Akkadia: membangun di tanah yang ditinggikan). Bangunan ini berfungsi sebagai kuil dan mungkin bermula dari tradisi periode Ubaid untuk membangun kuil yang ditinggikan. Pembuatan Ziggurat ini memiliki alasan praktis untuk menghindarkan kuil dari banjir yang terus mengancam kota-kota Mesopotamia.
Barton (1923) mengidentifikasi bahwa Ziggurat tertua dibangun oleh Ur-nina sekitar 3000 tahun SM di Lagash dengan sebutan E-pa. Keterangan lebih muda mengenai E-pa dari Gudea (2500 SM) menyebutkan bahwa E-pa dibangun tujuh tingkat dan di atasnya terdapat bangunan yang dipersembahkan untuk istrinya. Keterangan ini cocok dengan kisah yang ditulis Herodotus satu millenium sesudahnya.
Kota-kota Mesopotamia selalu dilanda peperangan, oleh karenanya para arkeolog selalu mendapati adanya tembok pertahanan kota. Tembok yang dibangun pada masa Babylon jauh lebih kuat daripada yang dibangun pada masa Sumer. Peninggalan Babylon lain adalah gerbang yang menjadi kebanggaan nama mereka, Gerbang para Dewa (dalam bahasa Akkadia Bab-ilu, Kramer, 1975).

marsh-arab

Arab Rawa  adalah masyarakat yang cara hidupnya tidak berubah sejak zaman Sumer

Keahlian bangsa Mesopotamia dalam menaklukkan alam memberikan inspirasi bagi  mereka untuk membuat taman yang bebas dari gangguan hewan liar ataupun banjir. Pada mulanya inspirasinya adalah keperluan praktis untuk ruang penggembalaan ternak di dalam benteng kota, namun kemudian para raja membuatnya menjadi kemewahan tersendiri (Dalley, 1993).
Sennacherib (740-681 SM, berkuasa 705-681 SM), raja Assyria, amat bangga dengan taman yang dibangunnya. Ia mengklaim telah membangun kirimahu tamsil šad hamanim(taman agung layaknya Gunung Amanus) yang diisi berbagai tanaman aromatik dan buah-buahan. Ia juga melengkapi tamannya dengan sistem irigasi yang juga mengairi Nineveh (Wiseman, 1983).
Taman Gantung telah terkenal sehingga menjadi bagian dari 7 keajaiban dunia yang dikompilasi oleh Strabo. Bagaimana peradaban Mesopotamia membangun taman yang dikenal sebagai taman gantung akan di bahas di bagian selanjutnya.

 

B. Taman Gantung dalam Sumber Klasik

Finkel dalam Clayton & Price (1988) menyebutkan setidaknya terdapat 5 sumber klasik yang dapat diakses hari ini yang menyebutkan mengenai Tamn Gantung Babilonia. Stevenson (1992) mengutip karya Diodorus Siculus:

“Terdapat pula, disebelah Akropolis sebuah Taman Gantung, sebagai mana ia disebut, yang dibangun bukan oleh Semiramis namun oleh Raja Assyria untuk memuaskan selirnya; karena konon katanya ia berasal dari Persia dan ia merindukan taman di gunung, meminta sang Raja untuk meniru dengan membuat taman buatan yang tampak seperti pegunungan Persia…”

Adalah Josephus, mengutip dari Berossos yang dikutip Polyhistor, yang menceritakan Taman Gantung di Babilonia yang dibangun oleh Nebuchadnezar (634-562 SM, berkuasa 605-561 SM). Kisah lain mengenai Taman Gantung ini dari Quintus Curtius Rufus tidak merujuk pada siapapun sebagai pembangunnya. Uniknya, Herodotus yang menulis tidak jauh dari era Nebuchadnezar sama sekali tidak menyebut Taman Gantung ini (Dalley, 1994).
Stephanie Dalley (1994) sekali lagi mengingatkan kemungkinan adanya kebingungan para sejarawan klasik mengenai perbedaan Nineveh (ibukota Assyria) dan Babylon. Keduanya adalah pusat budaya Mesopotamia pada masa itu yang saling bersaing bila tidak disatukan dalam satu kerajaan.

C. Interpretasi Mengenai Taman Gantung

Keterangan-keterangan mengenai Taman Gantung bukanlah didapat dari sumber Mesopotamia melainkan dari sumber-sumber Yunani klasik. Namun hasil penggalian arkeologis dari sisa-sisa peradaban Mesopotamia tidak menyebutkan tentang Taman Gantung ini, meski menyebut pelbagai taman lainnya (Dalley, 1994).

assurbanipal-in-sennacherib-garden

Diambil dari Dalley (1993)

Adalah Leonard Wooley yang menginterpretasikan Taman Gantung sebagai Ziggurat yang ditanami pepohonan. Ia menemukan bangunan Ziggurat yang temboknya ditembus lubang dengan jarak seragam, ia menganggap ini sebagai saluran air untuk mengairi taman gantung. Namun kini diketahui bahwa lubang-lubang ini dibuat untuk mempercepat dan menyeragamkan pengeringan bangunan Ziggurat dan membuatnya lebih awet  (Dalley,1993). Namun interpretasi Woolley telah menghasilkan imajinasi populer mengenai sebuah bukit artifisial dengan berbagai tanaman yang menjuntai.
Dalley (1993 dan 1994) berkeberatan untuk menempatkan Taman Gantung ini di Babilonia. Ia mengungkapkan bahwa lebih mungkin bahwa Taman Gantung yang merujuk pada Taman Agung yang dibangun oleh Sennacherib di Nineveh. Keberatan lainnya adalah dengan dibelokkannya sungai Eufrat oleh Persia, maka tidak mungkin bagi Taman Gantung di Babilonia untuk terus mendapatkan air.
Karen Poliner Foster (2004) setuju bahwa taman ini berada di Nineveh dan dibangun oleh Sennacherib, namun ia mengajukan keberatan lain mengenai bentuk Taman Gantung. Ia menyatakan bahwa bentuk taman tidak harus menghasilkan tanaman yang menjuntai di atas pengamat atau pengunjungnya, namun dapat pula berupa lahan berupa cerukan yang ditanami dan pengamat yang tidak dapat melihat akar tanaman akan melihatnya seolah-oleh tergantung. Namun tentu saja ini tidak memuaskan karena cerita dari sumber-sumber klasik menyebut Taman Gantung ini dibuat untuk menyerupai gunung atau bukit.

 

hanging-garden-schematics

Diambil dari Stevenson (1992)

Interpretasi Ziggurat yang ditanami pepohonan mungkin memiliki masalah, namun tampaknya dapat kita terima. Stevenson (1992) menanggapi sayembara dari pemerintah Iraq telah mengumpulkan alternatif yang mungkin digunakan dalam pengairan Taman Gantung ini. Ia mengajukan penggunaan kincir air bertingkat untuk mengangkat air hingga ke atas taman gantung ini. Ini berbeda dengan Dalley (1993) yang mengusulkan penggunaan skrup air archimedes.

 

D. Kesimpulan

Taman Gantung Babilonia adalah hasil kebudayaan Mesopotamia yang dikenal luas. Sumber-sumber klasik menyatakan bahwa Nebuchadnezzar adalah raja yang mendirikannya, namun ketiadaan bukti arkeologis membuat banyak kalangan ragu. Sennacherib adalah raja Assyria yang banyak membangun taman dan kanal irigasi, ia diusulkan sebagai orang yang membangun Taman Gantung.
Taman Gantung diinterpretasikan berbentuk piramida bertingkat, dari bangunan Ziggurat yang ditanami pepohonan untuk membuat tampilan sebuah bukit. Sistem pengairannya bisa berupa kincir air atau dengan skrup air archimides.

____________

Barton, George A. “The Form and Nature of E-Pa at Lagash” Journal of the American Oriental Society. Volume 43 (1923). halaman. 92-95.

Dalley, Stephanie. “Ancient Mesopotamian Gardens and the Identification of the Hanging Gardens of Babylon Resolved.” Garden History. Vol. 21, No. 1 (Summer, 1993), halaman 1-13.

Dalley, Stephanie. “Nineveh, Babylon and the Hanging Gardens: Cuneiform and Classical Sources Reconciled.” Iraq. Volume 56 (1994) halaman 45-58.

Finkel, Irving. “The Hanging Gardens of Babylon”. Dalam Clayton, Peter; Price, Martin. 1988. The Seven Wonders of the Ancient World. New York: Routledge. pp. 38 ff. ISBN 0-415-05036-7. Arsip online https://books.google.co.id/books?id=vGhbJzigPBwC&pg=PA38&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

Foster, Karen Pollinger. “The Hanging garden of Nineveh.” Iraq. Volume 66, Nineveh. Papers of the 49th Rencontre Assyriologique Internationale, Part One (2004). Halaman 207-220.

Kramer, Samuel Noah. 1975. Craddle of Civilization. Time-LIFE International. Nederland.

Stevenson, D.W.W. “A Proposal for the Irrigation of the Hanging Gardens of Babylon.” Iraq. Volume 54 (1992). Halaman 35-55.

Toynbee, Arnold. 2006. Sejarah Umat Manusia: Uraian Analitis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Wiseman, D. J. “Mesopotamian Gardens.” Anatolian Studies. Vol. 33 (1983). Halaman 137-144

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s