Sepintas Evolusi Manusia

Cerita tentang evolusi manusia adalah cerita yang cukup kontroversial di beberapa belahan dunia. Tanpa menyentuh kontroversi tersebut ayatayatadit berusaha menuliskan cerita tentang evolusi manusia tersebut.

hqdefault

A. Pendahuluan

Perubahan populasi makhluk dari satu bentuk menjadi bentuk lain dan keanekaragaman jenisnya banyak dikemukakan oleh berbagai cendekiawan dari waktu ke waktu, Ernst Mayr (2010) menyatakan bahwa ide mengenai dunia yang berubah (dan evolusi) mulai muncul sejak abad 17. Barulah pada abad 19 karya Charles Darwin, On the Origin of Species memiliki pengaruh epistemologis kuat yang mempertanyakan apakah manusia hanya salah satu diantara sekian makhluk hidup lainnya. Darwin menegaskan ketidakunikan manusia dalam skema ini melalui bukunya yang lain The Descent of Man yang terbit 1871.

Hampir berbarengan dengan penerbitan Origin of Species, penemuan tulang belulang di lembah Neanderthal, Jerman, menarik perhatian. Perbedaan-perbedaan dengan kerangka manusia mendorong William King(1864) untuk menyatakan ini adalah spesies berbeda dengan manusia saat ini. Penemuan ini, fosil manusia yang jauh berbeda dengan manusia modern saat ini mengawali diskursus hebat mengenai asal mula manusia. Dalam Descent of Man Darwin meramalkan bahwa nantinya akan ditemukan bentuk antara lebih arkais yang menjembatani antara manusia modern dengan kera, kerabat terdekat manusia yang masih ada.

Masing-masing budaya memiliki mitologi dan narasinya masing-masing mengenai kemunculan manusia dan bidaya unik mereka. Salah satu yang tersebar luas adalah konsepsi yang berasal dari tradisi Yahudi mengenai penciptaan manusia dan terbuangnya manusia dari surga. Cerita semacam ini di masa lalu mungkin menjadi jawaban bagi masing-masing budaya untuk menjawab secara unik siapa mereka itu. Namun, Alles dan Stevenson (2003) menyatakan bahwa cerita dan mitologi semacam tidak cocok bagi dunia yang semakin global. Kini pengetahuan mengenai asal-usul manusia melalui khazanah keilmuan dapat memberikan rasa persatuan bagi masyarakat dunia yang kian plural. Oleh karena itulah narasi mengenai asal-usul manusia modern melalui pengajaran evolusi perlu dilakukan. Tanpa merasa perlu memberikan argumen mengenai evolusi, penulis bermaksud memberikan garis besar kronologi evolusi manusia.

B. Apa Itu Manusia?

Sebelum membahas mengenai manusia purba maka penting bagi kita untuk memiliki pemahaman mengenai apa itu manusia. Tentu saja manusia secara biologis digolongkan sebagai hewan, ia masuk dalam kingdom Animalia dalam tatanan klasifikasi makhluk hidup. Namun apa yang membedakan manusia dengan hewan-hewan lainnya?

King (1864) dalam deskripsinya mengenai manusia neanderthal menyatakan bahwa mereka berbeda dengan manusia modern dalam konsepsinya mengenai Tuhan. Pernyataannya ini tidak dielaborasikan lebih lanjut dan dapat kita katakan lebih menjelaskan apa yang ia percayai dari pada mengenai neanderthal. Aflred Russel Wallace yang juga membuat teori seleksi alam secara terpisah dengan Darwin tidak mau menerapkan prinsip-prinsip seleksi alam kepada manusia karena baginya manusia terlalu cerdas, beradab, dan kompleks bagi alam. (Leakey, 2003)

Namun Darwin (diterangkan oleh Leakey, 2003) secara yakin memberikan penjelasan mengenai “manusia pertama.” Manusia pertama ini menurut Darwin adalah makhluk bipedal (berdiri diatas dua kaki) yang memiliki kehidupan sosial cukup kompleks dan sudah terampil menggunakan alat-alat yang dibuatnya. Namun Leakey menjelaskan lebih lanjut bahwa hal-hal tersebut mungkin tidak muncul bersamaan dan kuncinya adalah kemunculan bipedalisme memungkinkan tubuh bagian atas untuk digunakan dengan bebas.

Saat ini kita mengetahui melalui penelitian Jane Goodall (National Geographic, 2010) mengenai simpanse bahwa simpanse hidup dari berburu dan meramu, menggunakan alat, dan memiliki sistem sosialnya sendiri. Namun dapat kita lihat bahwa mereka amatlah berbeda dengan kita. Mereka berjalan dengan kaki dan tangannya, alat-alat yang mereka gunakan amat sederhana (tidak ada yang dari batu), dan kehidupan sosialnya amatlah sederhana dengan dikarenakan ketiadaan bahasa.

Leakey mengingatkan bahwa mungkin spesies-spesies awal manusia setelah terpisah dari kera besar lainnya tidaklah banyak berbeda dengan kera secara fisik maupun cara hidupnya (Leakey, 2003). Manusia pertama tidak lebih dari kera bipedal. Namun bipedalisme inilah yang memberi kesempatan munculnya ciri-ciri manusia lainnya yaitu kemampuan membuat alat dan kehidupan sosial lebih kompleks (budaya).

15016439_1798862180353006_5885064066106438697_o

C. Jenis-Jenis Manusia Arkais

Sebelumnya kita telah membahas apa itu manusia. Dari definisi manusia tersebut kita dapat mengenali kiranya sebuah spesies purba merupakan manusia ataukah kera besar lainnya, selain dari hasil analisis kekerabatan genetiknya. Dari khazanah fosil yang telah ditemukan oleh para ahli, fosil-fosil tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa spesies. Untuk memudahkan pembahasan bagian ini, kami menerangkan spesies-spesies manusia purba berdasarkan tempat ditemukannya.

  1. Manusia Purba yang ditemukan di Indonesia

Di Indonesia terdapat beberapa jenis manusia purba yang ditemukan, diantaranya:

a. Pithecanthropus (Homo Erectus) pertama kali ditemukan oleh Eugene Dubois pada 1892. Ia menyebutnya Pithecanthropus (manusia kera) untuk menjadikannya bentuk antara manusia dengan kera. Beberapa penemuan fosil lainnya yang serupa kemudian dinamai Pithecanthropus juga. Ia memiliki ciri volume otak sekitar 750-1300 cc, tulang alis menonjol, dahi rendah, akar hidung lebar, tidak memiliki dagu (Poesponegoro, Notosusanto dkk, 2010). Kesamaan dengan fosil di Zhoukoudien dan juga fosil-fosil lainnya akhirnya mendorong spesies ini disebut Homo erectus.

b. Meganthropus, disebut fosil manusia purba paling primitif di Indonesia (Poesponegoro, Notosusanto dkk, 2010) merupakan seri potongan-potongan (fragmen) fosil. Ia memiliki ciri yang berada di luar ciri Homo erectus. Tyler D.E. berpendapat bahwa fosil-fosil Meganthropus merupakan spesiasi dari H. erectus (2001 dan 2001).

c. Homo sapiens atau manusia (secara anatomis) modern ditemukan di Wajak dan Trinil. Ia memiliki ciri wajahnya datar serupa dengan manusia modern lainnya, akar hidungnya agak lebar, dahinya miring. Ia sulit ditanggali dengan tepat, namun diperkirakan hidup 40-25 ribu tahun lalu.

  1. Manusia Purba yang ditemukan di Asia

Asia memiliki wilayah yang amat luas oleh karenanya juga memiliki keragaman. Diantara fosil yang ditemukan adalah:

a. Homo erectus adalah spesies yang amat sukses menyebar di wilayah yang luas. Pelbagai fosil yang ditemukan di Asia kini banyak yang digolongkan sebagai H. erectus seperti P. erectus dan Sinanthropus pekinensis. Spesies di Asia Timur memiliki ciri yang cukup mirip dengan dari tempat lain, namun teknologi dan budayanya cukup berbeda dengan H. erectus dari tempat lain, contohnya adalah penggunaan bambu. Salah satu penemuan unik adalah tengkorak yang ditemukan di Dmanisi (Georgia) yang memiliki keragaman morfologis, mendorong pengelompokan spesies seperti habilis dan ergaster menjadi satu spesies dengan erectus.

b. Homo neanderthalensis adalah spesies yang muncul di Asia Barat atau Eropa kemudian menyebar juga ke Asia. Analissi DNA fosil gigi yang ditemukan di gua Dennisova (Siberia) menunjukkan kemungkinan bahwa neanderthal bercabang menjadi spesies lain di Asia Timur.

  1. Manusia Purba yang ditemukan di Eropa

Eropa memiliki beberapa jenis manusia purba yang ditemukan, diantaranya adalah:

a. Homo neanderthalensis adalah manusia purba yang muncul sekitar 250 ribu tahun lau di Asia Barat dan Eropa. Mereka memiliki proporsi tubuh seperti manusia modern, namun lebih pendek. Volume otak mereka melebihi manusia modern, namun bentuk cranial mereka berbeda. Neanderthal punah sekitar 29 ribu tahun lalu (Alles dan Stevenson, 2003).

b. Cro-magnon adalah fosil manusia modern yang ditemukan di Eropa, berusia 43-45 tahun lalu. Mereka hidup berdampingan dengan neanderthal sampi kepunahan neanderthal.

  1. Manusia Purba yang ditemukan di Afrika

Cerita mengenai manusia purba di Afrika akan jauh lebih panjang dibandingkan wilayah lain karena satu hal: keragaman dan sejarah yang lebih panjang. Oleh karena beragamnya manusia purba di Afrika maka pembahasannya akan dikelompokkan berdasarkan genus. Berikut manusia-manusia purba yang ditemukan di Afrika:

a. Australopithecus berarti “kera dari selatan” adalah genus yang meninggalkan jejak kaki, menunjukkan ini adalah jenis kera besar yang sepenuhnya bipedal, namun belum memiliki otak yang besar.

b. Paranthropus adalah genus hominin yang sudah punah, mereka bergerak sepenuhnya bipedal namun memiliki tengkorak yang tebal hampir seperti gorilla dengan sagittal crest. Ada yang berpendapat paranthropus adalah bentuk robust dari australopithecus, namun sebagian berpendapat mereka adalah genus sendiri. Sebelum kepunahannya Paranthropus hidup berdampingan dengan spesies dari genus Homo yang muncul belakangan.

c. Homo adalah genus manusia sesungguhnya. Diawali dari Homo habilis yang mulai membuat alat batu untuk menunjang hidupnya. Di Afrika genus ini cukup beragam. Kesuksesan genus ini dimulai dengan kemunculan H erectus yang segera bermigrasi ke luar Afrika setelah kemunculannya. Pada akhirnya kemunculan spesies H. sapiens mengakhiri keragaman genus ini. Pada masa kini hanya ada satu spesies homo yang masih ada.

D. Kronologi Evolusi Manusia

Pengetahuan mengenai jenis-jenis manusia purba saja tidaklah lengkap tanpa adanya pemahaman mengenai proses evolusi dan seleksi diantara mereka. Perubahan dalam evolusi bukan hanya deretan menuju ciri tertentu, tetapi mengapa ciri tertentu tersebut berhasil atau lebih cocok dengan alam sekitarnya harus dipertimbangkan.

Mengambil dari kerangka yang diberikan oleh Alles dan Stevenson (2003) untuk pengajaran biologi, kita dapat menggunakannya dalam pelajaran sejarah. Berikut adalah kerangka evolusi dari Alles dan Stevenso:

  1. Pada akhir Miocene (8-5 juta tahun lalu) terjadi diversifikasi kera Afrika selagi iklim Afrika Timur bergeser dari hutan hujan menjadi lebih kering;

  2. Bipedalisme berkembang pada akhir hingga awal Pliocene di hominins (6-4 juta tahun lalu) pada belahan timur Afrika, mungkin sebagai adaptasi atas habitat lebih terbuka;

  3. Sebuah penyebaran adaptif hominin Afrika terjadi antara 4-1,7 tahun lalu selagi Afrika Timur mengalami pengeringan lebih lanjut karena adanya zaman es;

  4. Sekitar 2 juta tahun lalu hingga sekarang terjadi peningkatan kapasitas otak secara dramatis pada leluhur manusia;

  5. Periode ini menyaksikan ekspansi cepat manusia ke berbagai wilayah, sekaligus divergensi (penganekaragaman) genus Homo;

  6. Pada akhirnya ekspansi ini diakhiri dengan reduksi jumlah spesies, diawali dengan punahnya hominin-hominin robust hingga akhirnya hanya satu spesies saja yang bertahan.

Dari kerangka ini kita dapat melihat bahwa manusia berasal dari Afrika. Manusia-manusia purba yang ditemukan di Asia dan Eropa tidak lain adalah keturunan dari manusia purba yang ditemukan di Eropa. Sesuai dengan pembahasan sebelumnya di Asia dan Eropa hanya ditemukan genus homo, sementara di Afrika terdapat genus lebih arkais yang lebih mnyerupai kera. Pada genus homo kemunculan spesies baru yang memiliki kapasitas otak lebih besar diikuti dengan migrasi yang memperluar wilayah yang didiami spesies tersebut. Kemunculan spesies yang lebih ‘modern’ ke luar Afrika diikuti dengan punahnya spesies yang lebih dulu mendiami berada di Eropa dan Asia.

timeline

____________________

Pustaka

Alles, David L., dan Stevenson, Joan C. (Mei, 2003) “Teaching Human Evolution” The American Biology Teacher, Vol. 65, No. 5. Halaman 333-339.

King, William. Januari 1864. The Reputed Fossil Man of Neanderthal” The Quarterly Journal of Science. Halaman 88-97.

Leakey, Richard. 2003. Asal-usul Manusia. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.

Mayr, Ernst. 2010. Evolusi. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.

Poesponegoro, Marwati D., Notosusanto, Noegroho., dkk. 2010. Sejarah Nasional Indonesia : Zaman Prasejarah di Indonesia, Edisi Pemutakhiran. Jakarta. Balai Pustaka.

Quammen, David. Oktober 2010. “Jane Goodall” National Geographic. Halaman 110-129.

Tyler, D.E. April 2001. “’Meganthropus’ Cranial Fossil from Java” Human Evolution. Halaman 81-101.

_________. Juli 2001. “Two New Meganthropus Mandibles from Java” Human Evolution. Halaman 151-158.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s