Sebuah Dongeng tentang Kalender

nafir_maroko

Semenjak manusia dianugrahi modernitas kognitif, manusia muklai mengolah diri dan lingkungannya. Ia menandai apa-apa yang tetap, segala ritme, dan dan hal-hal yang menakjubkan atau menakutkan baginya. Perlahan-lahan manusia menandai kapan dimulainya hujan, kapan buah tertentu siap dipetik, kapan perburuan akan dilakukan. Mereka yang hidup di negeri empat musim tentunya memiliki ritme hidup berbeda dengan mereka yang hidup di negeri tropis.

Dengan munculnya pertanian, manusia hidup dengan ritme lebih ketat. Mereka harus merencanakan kapan memulai menebar benih, kapan harus menyiangi tanamannya, dan kapan harus memanennya. Anak-anak Adam tidak lagi hidup dari hari ke hari saja, mereka harus menghitung cadangan makanannya di lumbung. “Adakah hasil panen gembili kami cukup untuk seratus hari lagi?” Tentu saja mereka masih dapat berburu dan mengumpulkan hasil hutan yang dimakan, namun bahaya kelaparan selalu mengancam.

Namun pertanian juga membawa berkah dengan semakin canggihnya kebudayaan. Salah satu berkah itu adalah penandaan ritme alam dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Maka para petani dapat melihat langit atau tanda-tanda lain di alam untuk menandai ritme bertani mereka. Para pemuka masyarakatpun menetapkan kapan dilakukannya ritual yang menyertai segala kegiatan. Di masyarakat yang cukup maju tanda-tanda alam ini ditulis dalam sesuatu yang kita kenal sebagai kalender.

Salah satu ritme alam yang mudah dihitung adalah siklus bulan. Dengan menghitung dari purnama ke purnama maka muncullah satu bulan. Bila dihitung dua belas purnama maka kita akan menemui musim yang sama. Namun karena siklus bulan tidaklah sama dengan siklus matahari (yang menentukan ritme musim) maka setelah beberapa tahun ditemuilah perbedaan antara catatan tahun dengan ritme musim. Namun ternyata pemecahannya cukup dengan menambahkan satu bulan kabisat tiap beberapa tahun. Maka jadilah apa yang kita kenal sebagai kalender lunisolar. Bangsa Yahudi dalam kalender lunisolarnya mereayakan tahun baru (chanukkah) setiap musim dingin sementara bangsa Tiongkok merayakannya setiap musim semi. Beberapa masyarakat ada pula yang memodifikasi kalendernya dengan hanya mendasarkan pada pergerakan matahari. Mereka merayakan tahun barunya seminggu setelah puncak musim dingin.

Cerita kita beralih ke negeri Arab. Dahulu bangsa Arab menggunakan kalender lunisolar seperti yang digunakan bangsa Yahudi dan bangsa lain di sekitarnya. Bangsa Arab tidaklah dipersatukan, masing-masing kabilah seringkali berperang. Namun untuk memelihara keamanan perdagangan mereka memiliki peraturan tidak tertulis bahwa selama 4 bulan haram dilarang melakukan peperangan. Namun karena adanya ketidakseragaman dalam menentukan bulan kabisat maka seringkali terjadi perang. Nabi Muhammad yang ingin mendamaikan bangsa Arab akhirnya menerima wahyu untuk menghapuskan bulan tambahan tersebut. Maka dimulailah perhitungan kalender Islam yang murni berdasarkan pergerakan bulan dan terlepas dari ritme musim dan lain-lainnya.

Setelah ratusan tahun berselang, akhirnya syiar Islam sampai ke tanah Jawa. Di sini seorang raja yang saleh berusaha memperkuat Islam dalam kehidupan rakyatnya. Prabu Hanyakrakusuma namanya, kini lebih dikenal dengan nama Sultan Agung. Ia mengganti perhitungan tahun Saka yang diadopsi dari kebudayaan Hindu-Buddha dengan perhitungan tahun Hijriyah, namun tetap melanjutkan angka tahun Saka. Maka muncullah kalender Jawa yang baru, kalender yang tidak menyertakan perhitungan bercocok tanam atau musim. Maka masyarakat Jawa memiliki dua perhitungan ritme waktu. Kalender Saka (baru) digunakan untuk pencatatan tahun oleh kalangan keraton dan pesantren, sementara masyarakat menggunakan pranatamangsa untuk menghitung ritme bercocok tanam.

Namun kemudian muncul kekuatan baru. Para pelaut Eropa datang dengan budaya dan teknologinya berhasil membangun hegemoni mereka di Nusa Jawa. Mereka membawa bersama dengan teknologi mereka sebuah kalender yang dinamai Kalender Masehi. Setelah ditundukkan selama setidaknya seabad lebih oleh hegemoni teknologi dan ilmu pengetahuan barat akhirnya masyarakat kita menerima praktisnya penanggalan berbasis matahari. Kita dengan mudahnya tahu kapan musim hujan dimulai dengan melihat pada bulan apakah kita saat ini. Para petani dengan mudah dapat bersiap untuk mulai bertanam atau merencanakan panen dengan menghitung hari di kalender masing-masing.

Namun kalender hijriyah tetap hadir dalam kehidupan masyarakat. Setiap setahun sekali riuh-rendah perdebatan dalam perhitungan kapan dimulainya puasa dan hari besar. Kedua sistem penanggalan memiliki nafasnya masing-masing. Kalender matahari memberikan menandai ritme duniawiyah, bercocok tanam, masuk sekolah, perhitungan cuaca, dan lain sebagainya. Di sisi lain kalender bulan menandai ritme religius, antara ibadah-ibadah maupun festival-festival Islam.

Kini terkadang muncul pertanyaan “Ustadz, merayakan tahun baru itu haram nggak sih?”

===================

Kami, ayatayatadit, dengan ini mendukung penghitungan kalender baru: Human Era.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s