Dwiwarna, UU Nomor 24 Tahun 2009, dan Almuzzamil Yusuf

Kira-kira mulai sekitar semingguan lalu asupan berita media sosial saya ramai soal bendera merah putih. Konon katanya ada yang menulisi bendera Indonesia dengan kalimat tauhid. Polisi segera bertindak menangkap pemuda kreatif yang membuat karya ini. Muncullah letupan yang mengutuki tindakan polisi ini, termasuk pernyataan dari anggota DPR.

Baiklah, tulisan ini akan membahas tentang coretan dan tempelan pada bendera serta kelakuan wakil rakyat (salah satunya Almuzammil Yusuf) terkait kasus bendera negara ini.

Warga dunia maya yang budiman. Anda yang sudah berusaha memahami dan menerapkan Undang-Undang nomor 24 tahun 2009 pasti paham tentang apa yang disebut bendera negara. Pada pasal 4 UU terkait disebutkan bahwa “Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawahnya berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.” Tentu saja hiasan merah-putih pada podium bukanlah bendera dan Jokowi dapat dengan tenang menginjaknya.

Lain lagi persoalan mengenai memberi tambahan tulisan atau logo pada bendera. Pada pasal 24 poin (d) diesbutkan bahwa tiap orang dilarang “mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka gambar, atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara;” Nah loh. Bendera itu suci, ndak boleh kau apa-apakan!

dhani

https://2brk.wordpress.com/2013/08/28/ahmad-dhani-bikin-logo-dewa-di-bendera-indonesia-diacaci-maki-giliran-metalica-malah-di-elu-elukan-wee-bubrah-bangsa-ini/

Sebetulnya sebelum UU ini diresmikan, ada kasus serupa yang seharusnya menjadi perhatian para penggede negeri (baik pembuat UU dan pelaksananya). Tindakan Ahmad Dhani meletakkan logo bandnya pada kain berwarna merah putih adalah ekspresi kebanggaan sebagai salah satu band terbesar Indonesia berbalut nesionalisme. Terlihat bahwa ada sebagian masyarakat Indonesia yang menganggap meletakkan logo atau lambang lain ke atas kain merah-putih bukanlah penistaan (meskipun seingat saya akhirnya Ahmad Dhani ngeles kalau kain itu tidak 2:3 sehingga bukan Bendera Negara).

Bila kita tengok di berbagai negeri lainnya, meletakkan tulisan bukanlah ekspresi penistaan. Ia bisa merupakan harapan atau doa. Di Jepang, ketika mereka sedang berperang, adalah pemandangan biasa di jalanan bila ada wanita yang berdiri di pinggir jalan, meminta pejalan kaki lain untuk turut membubuhkan doa pada selembar kain yang akan dikirimkan pada kerabatnya.

20170126_142704

Time Life Editor. Jepang Tersulut Perang. Tira Pustaka: Jakarta, 1986.

Selain bangsa Jepang, para mujahidin Sudan yang bergabung dalam gerakan Mahdi juga menggunakan bendera Sudan yang dibubuhi kalimat-kalimat yang menunjukkan identitas ke-Islam-an mereka.

976cf8d946b761879f879e06da8c4377

Tentu saja perilaku berbagai bangsa tersebut tidaklah mencerminkan budaya kita, namun bila kita melihat pada kasus Ahmad Dhani tadi kita dapat melihat adanya keragaman opini. UU nomor 24 tahun 2009 ini berusaha menyeragamkan perlakuan pada Bendera Negara, tanpa ada diskursus lebih lanjut. Bagi saya ini undang-undang bathil karena tidak mencerminkan pendapat seluruh masyarakat Indonesia.

Tak heran bila setelah UU ini disahkan dan berlaku kemudian hari malah ada yang membuat bendera merah putih bertuliskan Metallica. Tak hrean pula dikemudian hari di tengah riuh-rendah politik Indonesia muncul bendera merah putih bertuliskan kalimat tauhid. Bagi para pemuda kreatif ini, hal ini tidak diniatkan sebagai penistaan. Tapi Undang-Undang berkata lain, ini tetaplah hal terlarang.

Pernyataan Almuzzammil Yusuf mengenai tindakan Polri memang tidak bisa disalahkan. Ia hanya meminta polisi bertindak adil, ada masyarakat yang berbuat demikian tidak dengan niat menista bendera merah putih. Namun masalahnya adalah, UU nomor 24 tahun 2009 tidak membedakan masalah niat. Almuzzammil Yusuf adalah seorang anggota legislatif pada waktu UU ini dibahas dan diundangkan. Ia sendirilah yang menyediakan ‘senjata’ bagi polisi untuk menahan NF.

Selain mengenai pembubuhan tulisan, logo, atau benda lainnya ke bendera, kita juga mendapati aturan mengenai peletakan bendera sebagai badge di pakaian amatlah ketat sementara praktek di masyarakat amatlah beragam. Saya sebagai warga negara hanya meminta agar lembaga legislatif mempertimbangkan kembali UU yang mereka buat.

Semoga saja mereka tidak tidur ketika pembahasannya.

===============

Pemberontak Novorossiya juga memasang kalimat tauhid di benderanya lho:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s