Terjebak Warisan

Hampir dua minggu lalu dunia maya Indonesia membicarakan sebuah tulisan. Namun kerana saya sedang asyik jalan-jalan dan pemulihan untuk mebali pada normalitas, saya baru menemui ributnya tulisan berjudul “warisan” ini dari berbagai komentar (dan komentar terhadap komentar) terhadap tulisan tersebut. Jadilah saya gatel nulis lagi.

legacy

Bila anda belum tahu, arti kata “legacy” adalah warisan.

Bila boleh saya ceritakan, melalui tulisannya Afi mengajak agar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara kita tidak mengedepankan ego. Tak perlulah kita memaksakan pandangan hidup kita yang diilhami oleh religious world view kepada orang lain kerana orang lain punya world view lain lagi. Apalagi yang namanya agama, tiap agama pasti ngotot dia yang paling benar.

Dalam tulisan ini Afi menyebut bahwa pastilah keagamaan dan kehidupan beragama seseorang adalah warisan dari orang tua dan masyarakat ia dibesarkan. Bahasa kerennya cultural legacy. Kita menjadi Muslim, Kristen, Scientologist, atau pemuja Kerang Ajaib karena bagaimana kita dibesarkan lingkungan kita.

Saya lihat pendapat bahwa agama sekedar warisan ini menyengat banyak orang. Lha wong jelas-jelas iman itu pertanggungjawabannya secara pribadi, kok ini malah menyandarkan iman sekedar warisan orangtua dan lingkungan? Dengarkan saja nasyid diatas.

Sebetulnya Afi dapat saja menyitir hadist yang sudah banyak beredar:

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه “Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim) [jangan gantung saya kerna saya nyomot ini dari internet]

Bahkan hadits ini dikutip pula dalam tanggapan Gilang Kazuya Shimura. Apa-apa yang dilakukan orang tua (dan lingkungan) akan menjadikan bayi tak berdosa memiliki world view sesuai dengan masyarakatnya. Inilah yang disebut dalam tulisan Afi sebagai warisan.

Sayang sekali Gilang justru menekan pandangannya “Tapi adek tau gak, kalau secara fitrah kita udah muslim? Adek gak tau?” Di sini kita menemui kebuntuan, dari mana penjelasan bahwa kondisi asli, fitrah ini adalah kondisi sebagai muslim? Dari ajaran Islam yang didapatkan melalui pengalaman sesudah lahir. Kita bisa boilak-balik muter-muter antara yang mana yang fitrah, yang mana yang didapat dari lingkungan kita.

Gilang juga menekankan kebenaran Quran dengan menyitir al-baqarah ayat kedua.

Semua orang berhak mengklaim agama mereka yang terbaik, gak ada yang larang kok, wong iklan detergen aja bilang produk mereka yang terbaik. Tapi masalahnya, sejauh mana akal pikiran kita dipakai buat mencari kebenaran yang paling benar, bukan kebenaran atas dasar pingin tenar. Balik lagi ke tantangan yang kakak sebutkan diatas, adakah agama lain yang punya ayat setegas Al-Baqarah ayat 2?

Tentu saja ini adalah hal yang membuat saya takut. Ketika mendiskusikan kebenaran wahyu Tuhan kita bakal mentok dalam menggunakan logika. Logika berhenti karena kita jatuh dalam sesat pikir logika muter2.

circularity

Kalo mau waras, cukupkan beragama dengan iman. Ndak usah bawa logika.

Tentu saja sesat pikir ini dapat ditemui di berbagai agama, entah dari tradisi millah Ibrahim maupun dari belahan dunia lainnya.

Ada pula tanggapan lain berjudul “Waras, kan?” (What’s the comma for? That not how Indonesian grammar works m8!) Poin-poin yang diberikannnya terlalu banyak berupa non-sequitur sehingga saya malas membahasnya.

Tapi Afi juga ndak 100% benar.

Nah loh. Saya sudah capek-capek mengkritik pengkritik Afi ternyata akhirnya mengkritik Afi juga. Saya mengkritik Afi yang menjadikan manusia sekedar menerima warisan dari lingkungan dan orangtuanya. Manusia memiliki kemampuan memilih apa yang menurutnya baik baginya, itulah anugrah anak-anak Adam. Bahasa kerennya human agency, manusia tidak tunduk pada determinan alam atau kelahirannya untuk dapat memilih masa depannya.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

Kita tidak dapat memutuskan pada keluarga apa kita lahir, namun ketika kita dewasa kita dapat memilih jalan mana yang menurut kita paling benar dalam mencapai Tuhan.

Dapatkah kita menjelaskan fenomena kemunculan para penggerak dakwah Islam di perguruan tinggi negeri sekuler kalau bukan individu-individu yang “menemukan imannya.” Mereka bukan dari keluarga santri tetapi mencari sendiri identitas keislaman mereka. Kadang bahkan harus meninggalkan warisan lingkungan lamanya.

Tentu saja kita bisa menolak atau tidak melanjutkan warisan kita, namun kadang warisan orang tua dan lingkungan ini akan kembali mempengaruhi cara kita mengambil keputusan. Pada akhirnya kita memang tidak lepas dari warisan, namun kita tidak ditentukan oleh warisan kita.

===================================================

האם זאת דרך אלוהים
או אגדות או סיפורים
שמתחילים כל פעולה
תמיד בדרך השלילה
בגלל כתות ואדמה
ארץ יתומה

Pada akhirnya saya cuma mau bilang, Afi cuma mengajak kita untuk dengan kepala dingin berdialog dengan umat lain dalam rangka mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai. Meski begitu kita sebagai manusia tetap bisa memilih agama sebagai suatu yang kita raih, bukan sekedar menerima dari orangtua/lingkungan kita.

Advertisements

2 thoughts on “Terjebak Warisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s