Kalah Dua Kali

Agak risi juga ketika kemarin melihat lagi tulisan tentang Gaj Ahmada kembali muncul di grup WA yang saya ikuti. Sebelumnya sudah beberapa kali melihat tulisan itu dalam beberapa obrolan, tapi saya ndak tergerak ‘debunking’ poin-poin argumennya.

IMG_20170616_134445

Yang membuat saya risi bukan hanya argumen yang lemah namun sikap muslim jawa yang memandang zaman Majapahit sebagai satu-satunya zaman gemilang sehingga perlu diklaim. Apa kita sebagai muslim tidak punya cerita kita sendiri?

Pandangan bahwa masa Hindu-Buddha Nusantara sebagai zaman klasik Nusantara datang dari Barat. Raffles adalah seorang Gubernur Jendral yang amat selo waktunya. Sembari memerintah Hindia, ia menyempatkan diri blusukan. Bukan untuk membangun citra dirinya, tapi ia ingin tahu karakter jajahannya. Hadirlah karyanya “History of Java” yang menceritakan pernak-pernik budaya Jawa dan sejarah Jawa.

Dalam buku ini muncullah pencitraan, bukan pencitraan tentang dirinya melainkan tentang masa lalu Jawa. Dari reruntuhan bangunan candi dan arca-arca Raffles melihat masa lalu gemilang Jawa. Ia memandang zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha sebagai zaman klasik bagi Nusantara, seperti zaman Yunani-Romawi di Eropa. Zaman Islam di abad 16-17 masehi tidaklah meninggalkan peninggalan bangunan maupun kesusastraan, maka zaman ini menjadi zaman kegelapan bagi Nusantara, persis seperti zaman kegelapan Eropa.

Pandangan ini kemudian diterjemahkan menjadi “Modjopahit adalah Koentjie!” Mungkin Muhammad Yamin membuat banyak mitos modern tentang Majapahit sebagai pemersatu Indonesia, tapi ia mengandalkan hasil kerja sarjana-sarjana barat masanya. Dari Raffles-lah perhatian mengenai “masa gemilang Hindu-Buddha” menarik para sarjana Belanda untuk mempelajari masa ini.

Tentu saja di kalangan sejarawan mitos “zaman gemilang Hindu-Buddha” vs “zaman kegelapan Islam” sudah mendapat banyak tanggapan (lihat “Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolinial, S Margana, 2004). Namun di masyarakat telah terpatri bahwa Sriwijaya dan Majapahit adalah dua kerajaan besar yang berjaya mempersatukan Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam tidak ada yang berhasil mempersatukan Nusantara.

Padahal bila kita kita lihat, terpencar-pencarnya kekuasaan di masa itu adalah tanda kemakmuran yang sudah lebih merata. Bukan hanya satu-dua pelabuhan besar yang dikuasai oleh Sriwijaya atau Majapahit sebagai hegemon melainkan berbagai kota pelabuhan yang menikmati kemakmuran dari perdagangan dunia. Namun kerajaan-kerajaan pesisir ini tidak meninggalkan bekas bangunan semegah masa sebelumnya, maka sulit bagi orang banyak untuk membayangkan kemakmuran di masa Islam menjadi norma umum di Jawa dan berbagai belahan lain Nusantara.

Rupanya citra “zaman gemilang Hindu-Buddha” yang disumbangkan oleh Raffles ini sudah sedemikian kuat merasuk benak rakyat Indonesia. Bagi muslim yang menjadikan sejarah sebagai modal untuk mengangkat harga dirinya ini menjadi tantangan. Alih-alih membangun narasi bagaimana Islam membentuk Nusantara, bagi sekelompok kecil lebih mudah untuk membuat klaim “zaman keemasan Majapahit ternyata Islam kok!”

Inilah kita. Katanya sudah merdeka 72 tahun, ternyata warisan kolonial dari Raffles masih menguasai imajinasi kita. Dulu kalah secara fisik, sekarang masih kalah dalam mentalitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s