Agar Tidak Menjadi Bodoh Soal Jerusalem

Minggu lalu POTUS a.k.a The Donald menyatakan pengakuan Amerika Serikat bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel. Seperti biasanya terkait dengan perilaku Trump, the world implode. Seperti biasanya apapun posisi anda terkait konflik Palestina-Israel, ayatayatadit akan hadir untuk anda agar tidak terseret dalam konsepsi keliru.

Bukan Bertepuk Sebelah Tangan

Banyak sekali media yang dalam beritanya menyatakan bahwa Trump melakukan klaim sepihak. Mulai dari CNN Indonesia, Detik, Seputar Indonesia, Tribun News, sampai Republika menggunakan frasa “klaim sepihak” untuk memberi gambaran situasi yang diplomasi terkait Jerusalem. Mungkin media dari tersebut menggunakan frasa ini karena mereka mengutip sumber mereka. Namun ini bukan alasan bagi anda untuk mengikuti kesalahan yang sama.

Mengapa saya katakan bahwa menyebut pernyataan Trump ini sebagai klaim sepihak sebagai sebuah kesalahan? Karena tindakan Trump ini adalah sebuah pengakuan. Sebuah jawaban atas Klaim Israel. Ini adalah sebuah jawaban, sebuah jawaban tidak muncul sebagai tindakan sepihak, ia adalah reaksi. Bila tindakan Amerika adalah klaim sepihak, maka kita mendapati sebuah kondisi absurd mengetahui jawaban atas pertanyaan terbesar tentang hidup, alam semesta, dan segalanya tanpa tahu pertanyaannya!

586px-nakba_day_2010_hebron

Jerusalem Kota Siapa?

Milik Allah. Sebuah jawaban singkat yang tentu saja akan membawa damai bila kita semua menerimanya dan saling berbagi sebagai sesama ciptaan Allah. Namun pada kenyataannya kita manusia adalah makhluk yang sering kali egois. Seringkali hanya memikirkan kepentingan diri kita sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain.

Setelah perang dunia kedua muncul imigran Yahudi yang berdatangan ke Palestina yang dikuasai Inggris (mandat Inggris). Pada saat itu Inggris sudah tidak berminat mengurusi koloninya, menyebabkan Palestina harus menentukan nasibnya sendiri. Pada saat itu lahan Palestina banyak dikuasai absentee landlord yang tinggal Mesir, Syam, atau Jordan. Konon merekalah yang menjual lahannya kepada imigran Yahudi. Palestina yang akan merdeka ini harus menentukan kemerdekaannya dengan mempertimbangkan keinginan Yahudi dan Arab, namun mereka tidak dapat berdamai. PBB kemudian mengusulkan Palestina dipecah menjadi dua negara untuk Yahudi dan Arab, Jerusalem akan dijadikan kota internasional yang berada di bawah pengawasan PBB. Tentu saja baik Yahudi Palestina maupun Arab menolak rencana ini.

Kaum Zionist dalam mewujudkan cita-cita nasionalnya memproklamasikan negara Israel dalam kekosongan kekuasaan Mandat Inggris di Palestina, terjadilah Nakba (bencana). Bangsa Arab (Palestina) terusir dari rumahnya. Akhir dari perang Arab-Israel ini menyebabkan wilayah Palestina terbelah antara wilayah Israel dan Palestina. Kota Jerusalem sendiri terbagi antara Jerusalem Barat yang dikuasai Israel dan Jerusalem Timur yang berada di bawah Jordania.

man_see_school_nakba

Kondisi Palestina di bawah penjagaan Jordania (Tepi Barat/West Bank) dan Mesir (Gaza) tidak berlangsung lama. Setelah kekalahan bangsa-bangsa Arab pada perang 1967, Mesir dan Jordania mundur dari wilayah Palestina. Israel memiliki kekuasaan penuh atas “wilayah Palestina.” Baik Jerusalem Barat yang dihuni Yahudi dan diakui sebagai wilayah Israel dan Jerusalem Timur (Bagian dari West Bank) yang diakui sebagai milik Palestina secara de facto dikontrol oleh Israel dan menggunakan hukum Israel.

Jerusalem Terbelah, Jerusalem Satu

Pada tahun 2012 Palestina merayakan statusnya sebagai negara yang diakui oleh PBB. Telah muncul berbagai usaha dari dekade-dekade sebelumnya untuk memperoleh status permanen Palestina dan kedamaian hakiki. Setelah usaha PBB pertama mengenai Palestina gagal (resolusi 1947 tidak pernah dicabut atau dil;aksanakan), kini kita mendapati resolusi baru dari PBB.

Dalam resolusi PBB tahun 1947 muncul konsep Corpus Separatum. Jerusalem sebagai sebuah kota Internasional yang dijaga/diperintah oleh PBB. Hal ini ditolak oleh bangsa Yahudi dan Arab saat itu. Kemudian hari justru terjadi perang hingga akhirnya saat ini Israel menggunakan Jerusalem (Barat) sebagai kedudukan pemerintahannya. Jerusalem Timur adalah wilayah pendudukan yang tidak diakui sebagai wilayah Israel (baik oleh Israel sendiri maupun dunia Internasional), dengan kata lain milik Palestina.

Pada tahun 2015 lalu terjadi ketegangan yang berlangsung lama di Jerusalem. Krisis ini berakhir dengan solusi diplomatis untuk mengembalikan kompleks suci (berada di Jerusalem Timur) dibawah pengawasan Jordan. Setelah muncul berita ini tidak ada perubahan signifikan mengenai kondisi Jerusalem, pada 2017 muncul ketegangan-ketegangan serupa.

533px-jerusalem_infobox_image

Status Jerusalem masih akan membingungkan dan setiap orang akan kukuh pada interpretasi dan keinginan masing-masing. Namun mengutip dari resolusi musyawarah umum PBB  tahun 2012 mengenai pengakuan atas Palestina kita dapati pernyataan berikut:

Reaffirming further its resolution 66/18 of 30 November 2011 and all relevant resolutions regarding the status of Jerusalem, bearing in mind that the annexation of East Jerusalem is not recognized by the international community, and emphasizing the need for a way to be found through negotiations to resolve the status of Jerusalem as the capital of two States,

Tampaknya kita harus menerima Jerusalem yang terbelah demi menerima Jerusalem sebagai ibukota Israel dan Palestina.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s