Menghadapi Zaman Gila

Di saat pelbagai berita di media online selalu dibubuhi oleh sensalionalisme, kita mendapati rekan-rekan kita terhanyut dalam reaksi emosional. Kadang reaksi ini muncul berupa lontaran kalimat yang justru merusak. Tapi hari ini saya melihat foto yang memberi saya sedikit harapan.

27908353_10156126464749334_3007893671297728464_o

Di situ seorang guru besar, Syafi’i Ma’arif, sedang berbicara dengan Suliyono. Suliyono ditembak kedua kakinya dan ditangkap karena melakukan penyerangan terhadap gereja Santa Lidwina Bedog. Apa yang dilakukan oleh Syafii Ma’arif sungguh kontras dengan kejadian beberapa hari sebelumnya.

Adalah guru Budi, ia menghadapi murid yang bermasalah. Peringatan guru Budi tidak diindahkan dan si murid justru menjadi beringas hingga ia memukul guru Budi. Setelah guru Budi kembali ke rumah, ia tak sadarkan diri dan berpulang ke rahmatullah. Segeralah muncul pelbagai komentar tentang si murid yang telah bertindak kurang ajar. Muncul pula keinginan memberlakukan pendidikan lebih keras kepada generasi ini. Adapula yang dengan pedasnya mengkritik hukuman yang dianggap terlalu ringan.

Di kesempatan lain saya mendapat cerita tentang bagaimana reaksi warganet terhadap begal. Kalap. Banyak yang menghendaki hukuman langsung di tempat oleh massa. Tak kurang dari itu, semalam saya melihat kiriman dari seseorang tentang anak yang dikeroyok karena dicurigai terlibat pelemparan batu.

Duh. Sungguh rasanya takut dengan mentalitas keroyokan saat ini. Betul memang orang yang bersalah membunuh dan menganiaya harus dihukum. Namun haruskah kita hilang akal ketika menghadapi peristiwa semacam ini?

Sebagai warga biasa kita melupakan pentingnya proses hukum untuk menjaga keadilan. Mengapa kita lupa bahwa tugas hakim adalah memberi keputusan bersalah atau tidak, dan kemudian memberi hukuman yang setimpal? Adakah kita dapat memberi keputusan yang bijaksana ketika kita hanyut dalam emosi dan main hakim sendiri?

Bahkan ada harapan di abtara mereka yang pernah tersesat dalam jalan terorisme.

Kita sebagai manusia berkewajiban membangun dunia yang lebih baik. Adakah ketika kita bertindak dalam pengaruh emosi kita akan membuat masyarakat yang lebih nyaman? Ataukah kita justru menciptakan teror, layaknya peristiwa ninja di Banyuwangi yang hingga kini masih kabur penyebabnya.

Janganlah zaman yang gila ini membuat kita ikut gila, bersandarlah pada kemanusiaan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s