Delusi Modern Jawa

Baru-baru ini Jateng-DIY dihebohkan oleh kabar perayaan Keraton Agung Sejagad di desa Pogung, Purworejo. Pemimpinnya mengklaim bahwa ia memegang mandat untuk memimpin seluruh dunia, klaim yang amat absurd bagi masyarakat awam seperti saya. Meski klaimnya extravagant, namun kelompok serupa bukanlah hal yang baru dalam sejarah Jawa modern.

toto santoso

Toto Santoso memimpin Keraton Agung Sejagad. Screencap artikel Kompas.

Sartono mencatat dalam karyanya mengenai kerusuhan sosial abad 19-20 ada unsur kepercayaan dalam banyak kerusuhan sosial tersebut. Seringkali gerakan sosial dipimpin oleh pemuka agama, kadang seorang haji yang baru pulang dari Mekkah dan mengklaim memiliki kemampuan spiritual untuk memimpin masyarakat untuk menuju kehidupan lebih baik. Terkadang pemimpin gerakan ini mengklaim memiliki darah ningrat. Kerusuhan sosial ini seringkali menentang Belanda, penarik pajak, atau bahkan kalangan Tionghoa.

Kesulitan hidup seringkali dijadikan penjelasan rentannya orang-orang dari berbagai kalangan untuk mengikuti gerakan atau bahkan sekte-sekte yang menjual mimpi ini. Kehadiran ramalan Jangka Jayabaya dalam kesadaran masyarakat saat itu dapat menggambarkan kegelisahan ditengah preubahan masyarakat yang terjadi karena kolonialisme. Bahkan pengaruh ramalan ini di kemudian hari mengilhami banyak warga pedesaan untuk menjadi anggota Sarekat Islam (dan menjadikan kartu anggotanya menjadi semacam jimat).

Diantara gerakan di masa kolonial dengan perkumpulan/organisasi/gerakan delusif masa kini yang bermunculan di pulau Jawa, adakah kesamaan ciri-cirinya? Dalam renungan saya, kita bisa mengambil beberapa ciri. Meski tidak semua organisasi memenuhi semua ciri tersebut, bolehlah anda gunakan sebagai red flag.

  • Pemimpin Kharismatik

Pemimpin kelompok-kelompok dapat ini dapat menarik pengikutnya dari banyak cara. Di masa kolonial sebelum pengobatan modern dapat diakses, tabib atau penyembuh memiliki pengaruh besar pada pasien dan keluarga pasiennya. Ada pula haji-haji yang menjual jimat, mereka memiliki pengaruh serupa.

Bila pemimpinnya memang memiliki kharisma pribadi, mereka dapat menggunakan dua hal untuk memberi legitimasi kelompoknya. Klaim ningrat dan mendapat wahyu untuk melakukan ini. Seringkali keduanya muncul bersama-sama. Contohnya Toto Santosa membuat klaim ningrat modern dengan mencetak kartu identitas palsu yang diklaimnya keluaran PBB selain mengaku mendapat wangsit dari raja Mataram kuno (lihat poin 2).

  • Janji Khusus bagi Pengikut

Jadilah pejabat Keraton Agung Sejagat! Bergabung bersama kami menjadi korps diplomatik dunia! Adalah janji berupa pemberian jabatan selain janji material seperti bantuan dari World Bank atau pelunasan segala hutang!

Apabila gerakan Millennarian di Eropa lebih menitikberatkan pada penyelamatan ke surga, gerakan-gerakan delusif modern ini memberikan janji yang lebih pragmatis. (not that it made any sense) Seringkali mereka menyandarkan pada dongeng tentang harta karun Soekarno yang tertahan di Swiss dan bentuk yang terbaru adalah dana dari World Bank.

Tentu saja gerakan delusi modern ini tidak tampak memiliki kemampuan untuk mewujudkan apa yang mereka janjikan. Bahkan kadang berujung pada kepolisian.

  • Pandangan Dunia yang Ganjil

Di masa kolonial, pandangan masyarakat pribumi tentang dunia hampir selalu berbeda dengan cara pandang Eropa. Seringkali karena keterbatasan informasi, pandangan pribumi menyandarkan pada folklore dan sumber-sumber intangible seperti mimpi/wangsit dari pemimpin atau ramalan kuno. Tentu saja supremasi teknologi dan administrasi membuat cara pandang pribumi tersisih.

Kini di era pendidikan (nyaris) universal seluruh lapisan masyarakat, kita masih menemui pandangan-pandangan nyleneh tentang bagaimana sistem politik dunia bekerja. Coba simak pidato dari pemimpin “Sunda Empire” yang mengaku akan membubarkan United Nations pada tahun 2020 ini:

Siang ini saya mendapati akun twitter organisasi ini (Sunda Emp[ire), namun pada saat tulisan ini dikerjakan akun twitternya menghilang.

Salah satu bentuk lain pandangan ganjil kelompok delusif seperti ini adalah mengenai bagaimana perbankan bekerja. Swissindo mengklaim dapat menghapus hutang, namun ketika mereka menghadapi perbankan mereka hanya mengirimkan lembaran surat dengan berbagai cap yang tidak memiliki arti apa-apa bagi bank kreditur.

e8987efb-2b3c-41ca-9890-aae11bc6a071

Diplomat Sunda Empire

Ketiga ciri ini dapat menjadi red flag bagi anda sebelum mengikuti organisasi terntentu, namun tentu saja kalau anda mengerti sejarah, pengetahuan umum dunia, dan kewaspadaan mental anda tidak akan terjebak organisasi yang berbagi delusi seperti ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s