Benturan NU PKI 1948-1965 [REVIEW]

11 Maret. Telah berlalu 49 tahun sejak Soeharto meraih kekuasaan de facto atas Indonesia dalam rangka “memulihkan ketertiban dan keamanan.” Untuk memperingatinya kali ini saya akan membahas buku berjudul “Benturan NU-PKI 1948-1965” yang menjadi semacam buku putih NU seputar konfliknya dengan PKI.

bukuputihNU

NU memang salah satu pihak yang mengalami konflik yang keras berhadapan dengan PKI. NU telah berhasil kokoh keluar sebagai organisasi yang selamat dalam masa-masa konfrontasi horizontal antar organisasi politik masa itu. Sebagai organisasi yang menjadi “pemenang” kini mereka menghadapi tantangan.

Buku ini menjawab tantangan tersebut dengan bahasan tentang tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada NU. Dalam “dramatisasi jumlah korban” terlihat tidak adanya jumlah pasti korban dari pihak PKI. Rentangnya dari 25 ribu hingga 1 juta orang. Buku ini mengambil kritik dari Hermawan Sulistyo mengenai ketidakpastian jumlah korban yang dikemukakan pengamat asing, namun lingkup kajian Hermawan Sulistyo yang terbatas (Jombang-Kediri) tidak dipertimbangkan untuk menjelaskan perbedaan angka dari Hermawan Sulistyo (25 ribu) dan perkiraan pemerintah Soekarno (65 ribu).

Penulis buku ini juga menggambarkan PKI sebagai alat Belanda. Kehadiran agitator belanda di komunis masa kolonial umumnya dianggap sebagai pelopor perlawanan terhadap pemerintah kolonial, namun penulis menggambarkan mereka sebagai agitator kiriman Belanda. Tanpa menyebutkan sumbernya, penulis juga menyebut bahwa pemberontakan Madiun disuplai oleh Belanda (kemungkinan besar bersumber dari propaganda Tan Malaka). Hal paling kabur adalah penulis buku ini menyebut para peneliti asing, terutama dari Cornell dan jurnal Indonesia, sebagai peneliti kiriman Belanda. Penulis berusaha menggambarkan PKI sebagai kaki tangan asing, namun bukannya membahas hubungan PKI dengan Komintern mereka justru mengaitkan PKI dengan Belanda (yang sangat terganggu dengan agitasi pro-kemerdekaan Indonesia kalangan komunis) dan akademisi Amerika.

Namun mari kita tinggalkan kritik tersebut.

Dalam buku ini terpotret berbagai pengalaman NU dalam konflik-konflik horizontal antara NU dengan PKI sejak masa revolusi fisik hingga pembersihan PKI 1965-1966. Cerita-cerita tentang Ansor yang membela anggota NU (bahkan Muhammadiyah) dari penyerobotan lahan oleh BTI adalah pengalaman yang mewarnai sejarah Indonesia. Hal ini terjadi karena ketidakjelasan pelaksanaan reformasi tanah sebagaimana diamanatkan UU Pokok Agraria. Konflik yang terjadi akibat aksi-aksi kesenian Lekra yang bersifat penghinaan agama juga tergambar dalam buku ini.

Yang khas dari kalangan NU adalah anekdot tentang penggunaan mantra-mantra, doa, maupun kesaktian lainnya dalam buku ini dituliskan sebagaimana dipercayai oleh para pelakunya. Kekebalan anggota Banser menghadapi PKI tergambar ketika dalam pawainya Banser diserang semprotan cairan kimia oleh PKI namun angin justru berbalik arah ke arah PKI.

It apply to communist too.

It apply to communist too.

Dalam buku ini juga digambarkan adanya pembunuhan/pembantaian terhadap anggota PKI yang terjadi secara spontan. Tidan ada perencanaan atau usaha sistematis dari NU untuk menghabisi PKI. Mereka hanya menuntut pembubaran PKI kepada pemerintah dan Banser melakukan penjagaan atau penyerangan spontan terhadap kalangan komunis di daerah-daerah.

Namun pada akhirnya dalam kesimpulannya penulis masih malu-malu mengakui keterlibatan NU dalam pembantaian PKI ataupun mengembalikan tanggung jawab kepada TNI dalam hal pembantaian yang terjadi di masa ini. memang betul tidak ada rencana sistematis NU untuk membantai PKI. Namun bagaimana penulisnya dapat mengakui penelitian Hermawan Sulistyo tentang pembantaian 25 ribu orang, menjelaskan berbagai tindakan PKI yang memprovokasi konflik, namun berdiam diri tentang pembntaian tersebut?

Buku putih ini memberikan perspektif yang personal tentang konflik antara NU dan PKI. Bila anda ingin memahami konflik masa itu dengan lengkap maka buku ini menjadi salah satu bacaan yang amat baik, namun buku ini tidak dapat digunakan sendirian bila ingin mendapatkan gambaran yang menyeluruh.

============

Konflik horizontal yang terjadi masa itu bukannya dimediasi justru diperparah dengan agitasi PKI. Ketika angin berbalik arah kita sudah melihat bagaimana akhirnya PKI tertumpas badai yang mereka buat. Kini kita melihat lagi ‘konflik’ intelektualitas antara muslim puritan dengan liberal, antara fans dan hater Jokowi, dan banyak lainnya. Banyak pihak hanya mau mendengarkan golongannya sendiri dan tidak mau melihat sudut pandang pihak lain.

Bila angin berubah arah, adakah kita akan mengulang lagi pertumpahan darah sesama anak negeri? Akankah pemegang kekuasaan mampu bersikap adil dan mencegah kekerasan?

Advertisements

One thought on “Benturan NU PKI 1948-1965 [REVIEW]

  1. Pingback: Benturan NU PKI 1948-1965 [REVIEW]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s