Peran Sturmabteilung di Perang Kemerdekaan

Sturmabteilung. Nama ini dikenal sebagai sayap militer partai Nasionalis-Sosialis Jerman alias Nazi. Namun adakah anda tahu bahwa ada juga Sturmabteilung di Indonesia?

Sebenarnya hampir ndak ada hubungannya, tapi saya pasang biar situ mau klik.

Sebenarnya hampir ndak ada hubungannya, tapi saya pasang biar situ mau klik.

Dalam hingar-bingar kemerdekaan Indonesia muncul ketidakpastian. Pasukan Jepang masih berjaga meski mereka sudah mengalami kehilangan semangat karena kekalahan perang. Siapa yang seharusnya berkuasa? Adalah Moektio dan Sri Boedoyo, tokoh di kalangan pelajar sekolah menengah Panti Parama Surakarta yang pernah mengikuti pelatihan Seinendan, berinisiatif mengumpulkan rekan-rekannya membentuk laskar untuk mengambil alih kekuasaan atas nama Republik.

Bersama 40 pelajar dan dibantu rakyat Kartasura mereka melucuti pasukan Jepang di pabrik gula Gembong. Meski sempat memberi tembakan peringatan ke atas prajurit Jepang tersebut sudah kalah mental. Senjata dan pabrik gula Gembunganpun dapat dikuasai para pelajar tersebut. Dengan semangat tinggi mereka segera menjawab panggilan ketika terdengar kabar bahwa tentara sekutu mendarat di Semarang untuk mengambil alih pemerintahan dari tangan Jepang.

Seperti laskar-laskar pada waktu itu kelompok ini lebih dikenal dari nama pimpinannya. Bahkan dalam pertempuran 5 hari di Semarang mereka belum memiliki nama. Sepulang dari Semarang pada 19 Oktober mereka mendapat kabar tentang kondisi di Surabaya. Segeralah Moektio dan kawan-kawan berangkat lagi. Dalam perjalanan di kereta api mereka melihat burung alap-alap yang terbang dengan gesitnya. Jadilah nama Laskar Alap diambil sebagai identitas pasukan pelajar kelompok Moektio.

SA1Selesai pertempuran Surabaya Laskar Alap-Alap bergabung dengan Laskar Gajah Mada pimpinan Mayor Yoksodewo untuk mengusir pasukan Inggris di Ambarawa. Dengan menggunakan Hotel Kalimantan sebagai basis gerakan mereka mengkoordinasikan taktik petempuran bersama dengan laskar-laskar lain dari Surakarta.

Dalam reorganisasi TKR Laskar Alap-Alap masuk dalam Batalyon 10 pimpinan Mayor Soeharto (nanti menjadi Presiden RI). Mereka ditugaskan untuk membuat pos pertahanan di Srondol. Setelah dua bulan di front mereka kembali ke Solo dan kembali sekolah sesuai anjuran pemerintah.

Pada waktu inilah nama Sturmabteilung yang terinspirasi dari pasukan khusus Jerman. Brigjen Dr Prakoso menyebut bahwa pimpinan pasukan pelajar yaitu Achmadi, Prakoso, Soemitro dan kawan-kawan menyebutkan tentang pasukan khusus Jerman pada waktu PD II. Namun pada masa ini SA di Jerman adalah pasukan paramiliter NAZI, pasukan khusus seharusnya merujuk ke Sturmtruppen pada PD I.

Pada saat laska-laskar pelajar dikonsolidasikan jadi satu dalam Markas Pertahanan Pelajar kelompok Moektio juga bergabung. Setelah penumpasan pemberontakan PKI 1948 kelompok Moektio semakin kuat dengan didukung persenjataan yang diambil dari simpanan laskar dan pasukan pendukung PKI. Kelompok Moektio yang kini sudah bernama Sturmabteilung/Corps Suka RelA (SA/CSA) tidak bergabung dengan pasukan tentara pelajar lainnya (BE 17) namun bergabung dalam Brigade V Panembahan Senopati yang dipimpin Letkol Slamet Riyadi.

Masuknya SA dalam pasukan Slamet Riyadi adalah karena kedekatan pribadi Moektio dengan Slamet Riyadi, sama sekali tidak ada alasan politis. Pada masa ini satuan-satuan banyak yang berpindah-pindah sesuai keadaan perjuangan. Slamet Riyadi sendiri memberikan singkatan CSA agar CSR tidak disalahartikan sebagai Corps Slamet Riyadi.

SturmabteilungSturmabteilung pimpinan Moektio banyak mendapat tugas dalam gerilya. Pada saat agresi militer Belanda II mereka ditugasi menguasai Salatiga, Ungaran, Boyolali, sampai ke Bangak. Dengan bantuan rakyat maka konvoi pasukan Belanda tidak pernah dapat melalui daerah tersebut dengan aman.

Setelah penandatanganan Roem-Roijen Statement maka akan diadakan gencatan senjata. Untuk mempengaruhi pandangan publik dan parlemen Belanda tentang kemampuan Indonesia maka diputuskan akan diadakan serangan umum. Jendral Soedirman memerintahkan bahwa gencatan senjata dimulai pada tanggal 11 Agustus. Sepuluh hari sebelumnya Moektio dipanggil oleh komandan Brigade V untuk mengadakan rapat untuk merebut kota Solo.

Serangan Umum terhadap kota Solo dimulai pada tanggal 7 Agustus. Meskipun Belanda diperkuat oleh 3 Batalyon yang sebelumnya menguasai Yogyakarta namun kondisi mereka terdesak. Jendral Vreeden mendesak Komisaris Tinggi Lovink untuk menjalankan tindakan polisionil (agresi militer) ketiga untuk mengatasi hal ini namun ditolak. Akhirnya dengan pertempuran ini maka pada gencatan senjata 11 Agustus 1949 Solo sudah di tangan Republik.

Setelah pengakuan kedaulatan maka anggota SA/CSA kembali lagi ke masyarakat atau ada juga yang meneruskan karirnya di militer. Sebagian besar meneruskan kembali sekolahnya yang terganggu akibat perang. Kapten Moektio sendiri diserahi tugas sebagai komandan Batalyon 428 yang juga diperkuat sebagian bekas anggota Andi Azis.

Pertempuran Serangan Umum Solo berakhir dengan diserahkannya daerah Surakarta dan sekitarnya ke tangan Republik.

Pertempuran Serangan Umum Solo berakhir dengan diserahkannya daerah Surakarta dan sekitarnya ke tangan Republik.

___________________

BAHAN BACAAN:

Situs keluarga besar pejuang SA/CSA

Serangan Umum Surakarta, http://id.wikipedia.org/wiki/Serangan_Umum_Surakarta

Peranan Pelajar dalam Perang Kemerdekaan, Pusat Sejarah dan Tradisi TNI

Advertisements

One thought on “Peran Sturmabteilung di Perang Kemerdekaan

  1. Pingback: Kibarkan Benderamu! | ayatayatadit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s