Lemuria, What?

Hai, lama tak jumpa di blog ini. Mohon maaf bila ternyata ada diantara rekan-rekan yang menunggu-nunggu tulisan baru dari saya dan ternyata kuciwa dengan ketiadaan posting baru dari sayah. Mumpung lebaran belum genap seminggu sayah mohon maaf sedalam-dalamnya kepada rekan-rekan sekalian bilamana tulisan sayah banyak mengganggu ketentraman hati anda. Maklum, sayah cumak manusia medioker yang ikut-ikutan gaya menulis di blog.

therion_-_lemuria

Tanpa banyak kata, mari kita bicarakan Lemuria.

Sayah lumayan gatel dengan Lemuria. Entah kenapa kata Lemuria ini cukup dalam pengaruhnya bagi pendongeng ajaib, setelah Atlantis. Kadang malah konsep Atlantis dan Lemuria dijadikan satu dongeng untuk menunjukkan bahwa satu tempat tertentu punya nilai penting dalam sejarah dan mitologi umat manusia.

What a load of crap.

Tapi darimana konsep Lemuria muncul? Wikipedia mengantarkan sayah pada cerita tentang pengajuan konsep mengenai benua yang hilang di Samudra Hindia di kalangan komunitas ilmuwan abad 19. Apa pasal konsep benua ini diajukan? Sederhana saja, Lemur saat ini dapat ditemukan di Madagaskar dalam keragaman tinggi. Di India tidak ada lemur, namun fosil hewan terkait dapat ditemukan. But how?

Philip Sclater (yang meneliti hewan Madagaskar dan mempublikasikannya pada 1864) mengajukan teori mengenai adanya benua di Samudra Hindia. Benua ini menjembatani Hindia dan Madagaskar dan menjadi tempat tinggal para lemur, oleh karenanya ia menyebut benua ini LEMURIA.

c6a792ee7bbf739844ac948ac6214734

I’m the King of Lemurians!

Teori mengenai keberadaan benua hilang di Samudra Hindia ini akhirnya dianggap ketinggalan zaman dengan diterimanya konsep continental drift. Sekarang kita kenal tentang superkontinen Gondwana yang terdiri dari India, Afrika, dan Amerika Selatan. Ada superkontinen lebih besar –Pangaea– tapi kita tidak bicarakan itu. Tak perlu juga kita bicarakan tentang perdebatan ahli biologi tentang asal-usul Lemur, pokoknya Lemuria sudah ketinggalan jaman dalam perbincangan ilmuwan.

Abad 19 adalah waktu yang menarik. Selain kemajuan ilmu pengetahuandan teknologi, terjadi pula hal-hal lain. Otoritas keagamaan mulai kehilangan wibawanya. Gerakan-gerakan sosialis (komunis) mulai terjadi di masa ini sebagai reaksi atas perubahan sosial yang diakibatkan oleh revolusi industri. Di sisi lain masyarakat yang mencari spiritualitas menemukan ‘makanan’ barunya dalam kisah-kisah dan mitologi Occultist.

Para Occultist ini mengambil sumber dari manapun mereka suka, dan seringkali mencampurkan mitologi dari dua atau lebih sumber budaya yang hampir tidak ada hubungannya. Lemuria masuk dalam ‘khazanah ilmu’ Occult melalui karya Helena Blavatsky. Ia mendeskripsikan bangsa Lemurian “…about 7 feet (2.1 m) tall, sexually hermaphroditic, egg-laying, mentally undeveloped and spiritually more pure than the following ‘Root Races’.”

Ndak perlulah saya ceritakan lagi beberapa karya Occultist lainnya. Ada yang menyatakan bahwa mereka mengetahui mengenai Lemuria melalui “astral clairvoyance.” Adakah anda mau ikut mempercayai dongeng Lemuria macam ini?

13566991_10207822500453084_9099495286713029982_n

Parahnya lagi, bagi bangsa rendah diri macam Indonesia masa kini ndak memberikan cerita tentang kejayaan. Maka sebagian dari kita mencari-cari kejayaan itu dari cerita masa lalu. Tak cukup kisah kebesaran Sriwijaya dan Majapahit. Sekelompok Arkeolog dan Geolog mencari-cari cerita baru dari Gunung Padang dari Cianjur yang disebut mereka sebagai buatan manusia. Segeralah mereka yang demen dongeng occult menyambung-nyambungkan dengan Atlantis dan Lemuria.

Sayah cuma bisa geleng-geleng kepala sajah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s