Beras Plastik & Terompet Langit, What Could We Learn

TinFoilHatAreaOnlySebetulnya saya mentargetkan untuk membuat satu review buku hari ini, namun rupanya hingga malam ini saya belum selesai membaca bukunya. Kebetulan di posting saya kemarin tentang anti-vaksin saya mendapat request untuk membahas soal “terompet langit”. Baiklah, untuk kali ini mari kita bahas dulu tentang beras plastik.

Baru kemarin keluar kabar resmi dari pemerintah melalui BPOM bahwa tidak ada beras plastik. Sebelumnya BPOM menolak melakukan uji sampel yang diambil oleh pemkot Bekasi karena petugas mereka tidak turut serta dalam pengambilan sampel. Lab Sucofindo yang diminta pemkot dan polres Bekasi menyatakan bahwa sampel mereka mengandung bahan kimia yang berbahaya. Polres Bekasi bahkan menyegel kios tempat pelapor membeli beras yang ia “bermasalah” tersebut.

Scare panic.

Kini masyarakat kita demikian mudahnya mengkonsumsi berita-berita sensasional dan menganggapnya sebagai kebenaran. Tidak ada sedikitpun skeptisisme atau kehatia-hatian dalam menerima informasi. Reaksi aparatur negara, kepolisian maupun pemerintah menunjukkan tidak adanya pengalaman dan kemampuan dalam menghadapi krisis semacam ini, mereka hanyut dalam ketakutan ini. Hanya BPOM yang sudah terbiasa dengan hal semacam bisa menahan diri untuk tidak memperburuk suasana.

Mereka adalah korban ketakutan kita.

Mereka adalah korban ketakutan kita.

Bahan makanan yang dioplos atau tidak aman memang bukan hal baru di Indonesia. Antopn Lucas mencatat sejak zaman penjajahan dulu pangreh praja di pantura terlibat dengan pengoplosan pasir di beras-beras yang mereka kumpulkan dan distribusikan. Dari 1 kwintal beras bisa ditemukan 1 kg pasir di dalamnya. Beranjak ke masa kini kita sering mendengar formalin dalam bakso ataupun boraks di mi. Hal ini terus terjadi dari waktu ke waktu dan tidak pernah berhasil diberantas pemerintah. Bahkan penggunaan boraks dianggap aman karena merupakan resep tradisional (air bleng).

Ijinkan saya melakukan cocoklogi.

Saya melihat bahwa fenomena isu beras plastik ini mencerminkan adanya rasa takut atau kecemasan di masyarakat kita. Namun masyarakat kita tidak tahu apa yang menyebabkan ketakutan kita. Apakah ekonomi kita yang sedang lesu? Pemerintahan Jokowi yang tidak memuaskan? Tidak ada yang dapat menjelaskan dengan baik dari mana rasa cemas ini datang. Maka ketika ada isu beras plastik, segeralah isu ini menjadi pelampiasan kecemasan kita.

I don’t say you’re paranaoid because you should not be afraid. You’re paranoid because you’re afraid for wrong reason.

Beranjak dari sana kita beralih ke isu baru tentang suara terompet dari langit. Beberapa orang melaporkan bahwa mereka telah mereka mendengar suara seperti terompet yang terdengar di angkasa. Hal ini dibuktikan dengan rekaman yang mereka buat dan beberapa stasiun televisi Amerika menjadikannya berita.

Dari hasil pencarian “sound of trumpet from sky” saya mendapati artikel dari situs inquisitr.com yang cukup berimbang dalam memberitakan hal ini. Bila artikel merdeka.com menyebut ini sebagai “suara sangkakala” maka inquisitr cukup menyebut bahwa banyak teori dikemukan untuk menjelaskan fenomena ini, salah satunya adalah penjelasan eskatologis.

Sudah ada pula kalangan yang mencoba menjelaskan hal ini secara “ilmiah.” Silahkan anda cari apakah penjelasan tersebut memuaskan atau tidak. Untuk kali ini saya tidak akan ikut memberikan komentar mana teori yang benar, mana yang salah. Mari kita lihat dari sisi lain, gejala sosial apakah ini?

Mari kita melihat fenomena ini dengan berkaca pada fenomena lain. Dalam catatan sejarah Surakarta pernah terjadi suatu kejadian menghebohkan masyarakat Surakarta yaitu fenomena “Sumur Elok”.

Kuntowijoyo menceritakan pada pertengahan februari 1914 msayarakat Surakarta dihebohkan oleh kabar adanya sumur ajaib yang mengeluarkan cahaya-cahaya. Dalam artikel berjudul Sumur Elok, harian Darmo Konda pada waktu itu menceritakan bahwa tidak hanya satu orang yang melihat cahaya ajaib sumur tersebut. Apa yang dilihat dari sumur tersebut mencerminkan hal yang menjadi bagian mentalitas masyarakat masa itu. Alam & kekuatan gaib Surakarta (cahaya dan harimau), Islam (bulan & bintang, haji yang berzikir), maupun para priyayi (Bangkoe dipun Selehi Ganten Soho Poepoer).

socialconstructbatmanSaya tidak akan menyebut bahwa suara dari langit tersebut hanyalah konstruksi sosial belaka. Bukan itu yang hendak saya sampaikan.

Inquisitr menyebut bahwa fenomena ini muncul sejak 2008. Rapikan tinfoil hat anda sejenak, mungkin anda akan mengkaitkan fenomena ini dengan tahun kepemimpinan Obama. (We’re getting apocalypse? Oh yeah, thx Obama) Geser perspektif anda sedikit anda bisa mengingat bahwa salah satu keunggulan Obama dalam kampanyenya adalah dalam penggunaan smartphone dan media sosial. Yup, tahun 2008 adalah tahun ketika perangkat canggih (termasuk perekam) sudah bisa anda bawa kemanapun anda pergi. Tidak heran bila fenomena ini mulai terekam (bukan mulai terjadi) pada tahun 2008.

Lalu adakah penjelasan memuaskan untuk fenomena ini? Bersabarlah. Manusia adalah makhluk serba terbatas. Ilmu pengetahuan memang terus berkembang dan kita menemukan hal baru tiap harinya. Namun hal ini bukan berarti fenomena ini akan segera dapat dijelaskan. Bahkan mungkin tidak akan dapat dijelaskan seanjang umur kita.

Mengkaitkan fenomena aneh dengan hl-hal yang dekat dengan emosi kita tidaklah aneh. Itulah hal keseharian infowars.org maupun chemtrailsinourskies, begitu pula para doom sayer yang tiap hari mengingatkan kita bahwa “kiamat sudah dekat”. Mulai dari Y2K, rapture, 2012, dan kini suara anek dari langit. Tentu saja, kiamat sudah dekat dan tiap hari kita semakin mendekati kiamat. Namun kehendak Tuhan akan kiamat siapa yang tahu?

habbiding

Maybe you just want it to happen.

Lalu mengapa fenomena ini berpengaruh bagi kita saat ini? Entahlah, mungkin saat ini kita sedang takut-takutnya akan kiamat. Ketakutan ini bukan berarti kesalehan, mungkin kita memang sedang terbuai oleh nikmatnya dunia suhingga kita takut untuk melepaskannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s