Dinamika Sosial Jepang; dari masa Edo hingga Sekarang

Jepang adalah negeri yag mengalami perubahan secara cepat selama abad 19-20. Setelah Komodor Perry memaksa Jepang membuka pelabuhannya pada 1811, Jeepang mulaimembuka diri pada ide-ide asing. Pada 1868 dengan dimulai dari inisiatif politik restorasi Meiji mereka mulai melakukan modernisasi. Tak sampai lima puluh tahun pada 1905 mereka sudah setara dengan bangsa-bangsa Eropa.

japan_crowd

Perubahan-perubahan yang terjadi degan cepat ini tentunya membawa perubahan bagi masyarakat Jepang. Perubahan teknologi dan munculnya industri dengan jelas pasti membawa perubahan cara mendapat penghidupan bagi masyarakat. Dari masa Edo, awal modernisasi Meiji dan Taisho, era militerisme Showa, dan pasca-perang dunia Jepang memiliki karakternya masing-masing yang membawa perkembangan yang berbeda-beda. Mari kita melihat dinamika sosial Jepang mulai dari akhir masa Edo hingga sekarang.

Keadaan Sosial Masa Edo

Era Bakufu Edo ditandai oleh usaha-usaha para Shogun Tokugawa untuk mencegah perubahan sosial terjadi. Meski begitu, tatanan sosial tradisional yang kaku tidak mampu mencegah perubahan cara hidup anggota masyarakat yag terjadi akibat hubungan sosial yang tidak seimbang pada masa ini.

Susunan masyarakat Jepang pada masa ini dibagi menjadi empat yaitu kelas tentara (bushi), petani (noumin), tukang dan pekerja (shokou), dan pedangan (shounin). Secara kedudukan di masyarakat mereka secara berurutan dari yang paling atas bushi, kemudian noomin, shokoo, dan shounin, oleh karenanya dikenal akronim shi-nou-kou-shou. Keempat kelas ini dikendalikan oleh kelas bangsawan (kuge) dan para daimyo (buke).

Untuk memastikan perdamaian makan Bakufu megeluarkan kebijakan bahwa para samurai (kelas bushi) harus tinggal bersama tuannya (para daimyo) masing-masing. Sementara itu pada para Daimyo diwajibkan untuk meninggalkan istri dan anaknya di Edo, menjadikan mereka sandera pemerintah Bakufu. Para daimyo diberi kewajiban tinggal selama setahun di Edo secara bergantian.

jap_class

Tinggal di Edo tentunya membutuhkan biaya. Pada masa ini para daimyo memperoleh penghidupannya dari pajak yang sebagian besar berupa beras. Oleh karena itu di Edo mereka harus menukarkan beras mereka dengan emas dari para pedagang. Ini menyebabkan munculnya pedagang-pedagang Osaka (kota di sekitar Edo) yag kaya-raya padahal status sosial mereka amat rendah. Para daimyo juga terlilit hutang yang besar terhadap mereka pada abad akhir 18, menyebabkan sering terjadinya konflik diantara keduanya.

Terkadang masalah ini diatasi oleh daimyo dengan memberikan gelar samurai pada pedagang yang memegang piutang padanya. Namun para samurai rendah tidak mempunyai banyak pilihan, terkadang mereka memilih meninggalkan kelas mereka utuk bertani dan berdagang. Meski hubungan ini tidak seimbang namun tetap kokoh hingga 1850.

Kalangan rakyat biasa lainnya (petani dan para pekerja) tidak memiliki harapan untuk dapat melakukan mobilisasi sosial. Mereka terpaku pada peran sosial yang diberikan pada mereka dan desa-desa tempat mereka tinggal. Kehidupan mereka amatlah berat karena dibebani pajak untuk menopang kehidupan bangsawan dan samurai. Ada yang mensinyalir bahwa ini menyebabkan stagnasi demografi era ini. Kelaparan yag terjadi pada 1780 tidak hanya menyebabkan kematia tetapi munculnya infatisida.

Era Meiji dan Taisho

Restorasi Meiji adalah usaha dari daimyo Satsuma, Coshu, Hizen, dan Tosa untuk mengembalikan kekuasaan kepada Kaisar meiji akibat kegagalan Shogun Tokugawa merespons ancaman asing. Pada 1868 Kaisar Meiji mengumumkan persamaan hak yang kemudian diikuti berbagai kebijakan pemerintahan yang menghapuskan hak-hak istimewa samurai dan bangsawan. Oleh karena pemerintahan Meiji dikuasai oleh bangsawan dan samurai ini dapat diaktakan bahwa mereka menghapuskan hak-hak istimewa mereka sendiri.

TNS-0832_gp_cops_face_insurgents_lav_yb

Polisi modern menggantikan peran kelas samurai.

Pembagian kelas pada masa Edo disederhanakan dengan membagi masyarakat menjadi tiga kelas yaitu bangsawan (kazoku), samurai (shizoku) dan rakyat biasa (heimin). Meski pemerintahan masih dipegang oleh bangsawan dan samurai, pada 1870 jarak diantara ketiganya sudah hampir tidak ada. Hal ini ditopang dengan adanya pendidikan universal yang tercapai pada 1889. Ini memberikan kesempatan mobilitas sosial bagi semua kalangan masyarakat.

Pada Era Meiji pertambahan penduduk terjadi sangat cepat sekali. Pada 1872 penduduk Jepag berjumlah 34,8 juta yang empat perlimanya adalah petani. Pada 1900 penduduk Jepang berjumlah 43,8 juta, sebagian warga mengisi pekerjaan baru di sektor industri yang dibuka di daerah perkotaan. Pertambahan penduduk yang hanya terjadi di perkotaan menyebabkan ciri-ciri tradisional masyarakat Jepang bertahan cukup lama di pedesaan.

Pada Era Taisho muncul demokrasi parlementer yang membawa Hara Satoshi, seorang Heimin, menjadi Perdana Menteri. Pada masa ini sering terjadi huru hara akibat kelangkaan atau naiknya harga beras. Ini melukiskan tekanan demografis yang terjadi pada Jepang.

Di masyarakat baru ini lapisan kelas yang ada tidak tergambar melalui peraturan yag dikeluarkan oleh penguasa melainkan pada penguasaan modal dan kekuasaan. Di paling atas adalah para bangsawan dan industrialis, di bawahnya muncul kelas menengah lama (pedagang) dan kelas menengah baru (karyawan industri dan pemerintah, guru-guru). Terakhir adalah para petani dan pekerja kasar.

Awal Era Showa (Militerisme dan Perang Dunia)

Pemerintahan Kaisar Showa (dimulai 1926) ditandai dengan kalangan militer yang merebut kekuasaan dari pemerintahan sipil sebelumnya. Pada masa ini kalangan militer memusatkan perhatian pada penaklukan-penaklukan yang dilakukannya di Asia Timur.

Para petani yag berada di luar jangkauan kemajuan perkotaan mengalami kehidupan yang berat. Mereka diidentikkan dengan kemiskinan dan keterbelakangan budaya, sementara Jepang sedang melakuka misi imperialistiknya. Perbedaan antara penduduk pedesaan dan perkotaan dapat terlihat jelas dari pakaian. Penduduk pedesaan yag tidakterjangkau industri tidak dapat mengakses pakaian-pakaian ala barat yang dianggap modern.

jap_flowervendor

Pertambahan penduduk juga terjadi secara cepat pada era ini. Pada 1920 penduduk Jepang mencapai 59,96 juta, pada 1930 berjumlah 64,45, dan pada 1940 mencapai 71,93 juta orang. Tekanan demografi yang terjadi ini mendorong individu-individu untuk melakukan imigrasi ke wilayah yang menjadi bagian kekaisaran Jepang (Korea, Manchuria) maupun ke wilayah yang sama sekali asing (Indonesia dan Amerika).

Pemerintah Jepang sendiri mendorong para petani melakukan emigrasi hingga pada 1920an Amerika menutup pintu imigrasi. Pada saat militer Jepang semakin besar pengaruhnya mereka yang dari keluarga petani ini menjadi sasaran wajib militer yang membawa mereka keluar Jepang.

Bila melihat dari sisi industri, banyak individu yag berasal dari kalangan petani tidak mendapat akses ke lahan sehingga harus mencari pekerjaan di kota. Mereka menjadi buruh dengan upah rendah. Para industrialis menekan upah serendah-rendahnya agar produk mereka dapat diekspor dengan harga murah. Oleh karena itu tekanan demografi ini sendiri bisa dilihat tidak sebagai over populasi melainkan stagnasi ekonomi.

Sebagai reaksi atas kehidupan buruh perkotaan muncul ideologi nohonshugi. Ideologi ini menyatakan bahwa kehidupan sebagai pertanian adalah lebih alami. Meski sebagai petani pekerjaannya keras dan membosankan, namun kenyataannya kehidupan di masyarakat industri menurunkan harkat.

Masyarakat jepang Setelah Perang Dunia II

Kekalahan pada Perang Dunia II menyebabkan Jepang diduduki oleh Amerika Serikat. Untuk mencegah munculnya kembali unsur-unsur penganjur perang Amerika menghilangkan kelas-kelas kebangsawanan dan juga angkatan darat dan angkatan laut imperial. Dari sisi ekonomi industrialis besar yang pro-perang, Zaibatsu, diminta membubarkan konglomerasinya dan memfokuskan pada satu bidang industri saja. Pendudukan ini tidak lama (1945-1951) namun setelahnya Jepang memiliki tampilan dan pandangan baru.

Ekonomi Jepang terpacu dengan adanya perang Korea (1950-1953). Amerika menjadikan Jepang pangkalanya dan memberi permintaan besar dari industrinya. Ekspor yang dilakukan untuk pasukan PBB tidak hanya senjata tetapi suplai-suplai lainya. Pada tahun-tahun berikutnya ekonomi Jepang yang berkembang pesat bahkan mencapai 13,2% pada 1960.

Perkembangan industri dan ekonomi ini tidak diiringi dengan perbaikan kesejahteraan yag setara. Pertumbuhan ekonomi yag tinggi tersebut membuat kepincangan sosial amat mencolok. Pada saat itulah muncul gagasan gagsan tentang “kota-kota industr baru”.

Pada pemilihan tahun 1964, Eisaku Sato mengalahkan perdana Menteri Ikeda, dan dengan diangkatnya Sato maka pengembangan akan difokuskan pada pengembangan sosial. Namun usaha tersebut tidak dilaksana dan pada akhirnya pudar. Bila dibanding dengan pengeluaran pribadi untuk barang-barang konsumsi lebih tinggi dan investasi dalam pabrik dan peralatan lebih tinggi dari negara-negara lainnya. Ini menyebabkan laju ekonomi yang cepat dan semboyan tentang pengembangan sosial adalah omong kosong. Hingga akhirnya pada tahun 1970 pemerintah mancabut regulasi yang memberikan konsesi pada pengembangan ekonomi pada Undang-Undang pokok mengenai Polusi dan pendirian Badan Lingkungan Hidup. Tahun 1973 dinyatakan sebagai tahun petama bagi kesejahteraan.

Perang dunia II menyebabkan 4,2 juta tempat tinggal hancur sehingga tempat-tempat perlindungan dijadikan sebagai tempat tinggal. Kemajuan selanjutnya dalam pengembangan rumah tidak dapat memenuhi tuntutan kebutuhan atau mengejar harga tanah yang tinggi. Krisis perumahan ini terus berlangsung tanpa ada perubahan. Akibatnya tidak adanya fasilitas yang memadai bagi sebuah keluarga yang akan tinggal dalam perumahan tersebut.

Saluran pembuangan air kotor, bila dibandingkan dari negara-negara maju, jelas ketinggalan dan dalam penolahan sampah Jepang juga mengalami kesulitan. Selain itu taman-taman umum dapat dikatakan langka atau sulit ditemukan. Dalam bidang kesehatan Jepang mengalami kekurangan dokter yang dapat bertugas di pelosok-pelosok sehingga kurang meratanya fasilitas tersebut. Namun pemerintah juga tidak melakukan tindakan untuk menolong daerah-daerah yang kekurangan fasilitas tersebut.

jap_industri

Industri Jepang segera bangkit setelah perang, namun kesejahteraan sosial terlambat menyusul.

Undang-undang Jepang menyebutkan bahwa “semua warga negara mempunyai hak untuk hidup untuk hidup sehat dan menikmati taraf minimum tertentu dalam hal kebudayaan”. Selanjutnya undang-undang tersebut menyebutkan bahwa bangsa itu “harus berusaha meningkatkan jaminan sosial dan kesehatan rakyat”. Tujuan jaminan sosial adalah menjamin hak warga negara untuk hidup dan meningkatkan kemampuannya untuk mandiri dan swasembada. Meski taraf jaminan sosial telah meningkat namun masih terdapat perbedaan besar antara biaya hidup keluarga biasa dengan keluarga penerima bantuan. Program asuransi sosial yang bertaraf rendah ini mengungkapkan bahwa jaminan sosial yang diberikan masih rendah.

Sistem tunjangan tahunan menjadi dua gabungan besar : sistem kelompok pekerja dan tunjangan tahunan daerah menurut sistem tunjangan tahunan nasional. Berdasarkan undang-undang tunjangan tahunan nasional tahun 1959, sistem tunjangan yang terakhir memasukkan orang-orang yang tidak tergabung dalam sistem tunjangan tahunan lainnya ke dalam sistem asuransi wilayah. Dengan demikian Jepang akhirnya memiliki sistem tunjangan tahunan yang mencakup semua orang sejak 1961.

Namun masalah-masalah ini sedikit demi sedikit dapat diatasi oleh pemerintah Jepang. Pada dasawarsa 1980-an Jepang telah setidaknya memiliki sistem penjaminan sosial, sanitasi dan taman yang diurus oleh pemerintah munisipal dan prefektur. Kini Jepang telah menjadi salah satu negara yang paling bersih dalam mengolah limbah-limbahnya.

Tantangan Masa Depan Jepang

Jepang telah memiliki kemajuan yang pesat, bahkan setelah kekalahan dalam perang dunia II. Industri yang berkembang pesat sejak dasawarsa 1960an memberikan stimulus ekonomi yang dimanfaatkan cukup baik. Perbaikan bidang kesejahteraan sosial menjadikan masyarakat jepang dalam kondisi mapan sejak dasawarsa 1990an.

Namun sejak era ini Jepang mengalami masalah baru. Populasinya mengalami penuaan. Kini lebih dari 30% populasinya berumur lebih dari 60 tahun. Mereka yang berada di luar usia produktif ini menjadi beban ekonomi bagi masyarakat Jepang.

3DPD

Selama sepuluh tahun terakhir kematian yang terjadi lebih banyak daripada kelahiran. Bahkan margin antara kematian dan kelahiran pada tahun lalu jauh lebih besar pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menimbulkan masalah potensial bagi ekonomi Jepang di masa mendatang: ekonomi tidak akan berjalan bila tidak ada sumber daya manusia untuk menjalankannya.

Bila negara-negara Eropa mengatasi hal ini dengan mempromosikan imigrasi dari negara-negara berkembang kepadanya, Jepang tidak melakukannya. Salah satu hal yang dilakukan Jepang untuk menghadapi populasi yang menyusut dalah mendorong dilakukannya otomatisasi. Kita akan melihat seberapa efektif usaha ini dalam dua puluh tahun ke depan.

================

Pustaka

Adomanis, Mark. “Japan’s Demography Will Eventually Crush Its Economy.” Forbes. http://www.forbes.com/sites/markadomanis/2015/01/03/japans-demography-will-eventually-crush-its-economy/. Diakses 27 November 2015.

Anonim. “Aging of Japan,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Aging_of_Japan. Diakses 26 November 2015.

Anonim. “Demographics of Japan,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Demographics_of_Japan. Diakses 25 November 2015.Beasley, W.G. 2003. Pengalaman Jepang: Sejarah Singkat Jepang. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Cornell, Lurell. “Infanticide in Early Modern Japan? Demography, Culture, and Population Growth.” The Journal of Asian Studies, Volume 55, Nomor 1, Februari, 1996: halaman 22-50

Ishii Ryosuke. 1989. Sejarah Institusi Politik Jepang. Jakarta: Gramedia.

Rager, FA. “Japanese Emigration and Japan’s ‘Population Pressure.’” Pacific Affairs, Volume 14, Nomor 3, September, 1941: halaman 300-321

Suherman, Eman. “Dinamika Masyarakat Jepang dari Masa Edo hingga Pasca-Perang Dunia II.” Humaniora. Volume 16, Nomor 2, Juni 2004: halaman 201-211.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s